Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan Terkait Sistem Pencernaan.
Di susun oleh :
- Dessy Eka Mariyani (121.0022)
- Fachrizal Aulia (121.0034)
- Jihan Fahira Aulia (121.0052)
- Nirota Zuriga Purwanto (121.0072)
- Riska Arini (121.0088)
- Sri Dianti (121.0100)
STKES Hang Tuah Surabaya - Prodi S1 Keperawatan
Tahun Ajaran 2013/1014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas makalah Sistem Respirasi ini dengan judul
“Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ; Pengkajian Keperawatan Terkait Sistem
Pencernaan ” tepat pada waktunya.Adapun
tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu metode pembelajaran
bagi mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan HangTuah Surabaya.
Kami sadar akan segala kekurangan
dalam pembuatan makalah ini,dan kami akan sangat bangga apabila makalah yang kami susun ini mendapatkan saran maupun kritik yang
bersifat membangun. Tidak lupa kami haturkan permohonan maaf apabila makalah yang kami buat terdapat suatu kesalahan.
Terakhir kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu tersusunnya makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat
memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi para pembaca.
Tim penulis
DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................................
i
Kata pengantar
................................................................................................................
ii
Daftar isi .........................................................................................................................
iii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang......................................................................................................... 1
1.2 Rumusan
Masalah..................................................................................................... 1
1.3
Tujuan....................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat...................................................................................................................... 1
Bab II Pembahasan
2.1 Ketidakefektifan Pola
Nafas...................................................................................... 2
2.2 Ketidakefektifan Jalan
Nafas..................................................................................... 3
2.3 Gangguan Pertukaran
Gas......................................................................................... 4
2.4 Gangguan Keseimbangan
Asam-Basa....................................................................... 5
Bab III Penutup
3.1
Kesimpulan.............................................................................................................. 9
3.2 Saran.......................................................................................................................... 9
Daftar
Pustaka............................................................................................................................... iv
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
System respirasi pada manusia
terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang merupakan parameter kesehatan
manusia. Jika salah satu system respirasi terganggu maka secara system lain
yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat menimbulkan terganggunya
proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit. Pernapasan
atau proses respirasi merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran
karbondioksida, dan pengunaan energi yang dihasilkan oleh tubuh. Organ tubuh
yang berfungsi dalm proses ini adalah hidung, faring ( tekak ), trakea (batang
tenggorokan ), bronkus ( cabang batang tenggorokan, dan paru - paru ).
Respirasi merupakan proses ganda,
yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan (penafasan dalam) dan yang
terjadi di dalam paru-paru (pernafasan luar). Dengan bernafas setiap sel dalam
tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk
oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan,
memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri melangsungkan proses metabolismenya,
yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbon dioksida
dan air dihilangkan (Pearce, 2008).
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Apa yang dimaksud
dengan ketidakefektifan pola nafas?
1.2.2
Bagaimanakah gejala
pada bersihan jalan nafas yang tidak efektif?
1.2.3
Bagaimana terjadinya
gangguan pertukaran gas pada pola nafas?
1.2.4
Ada berapa jenis
asam-basa pada pola nafas?
1.3
Tujuan
1.3.1
Menjelaskan pengertian
dari ketidakefektifan pola nafas
1.3.2
Menjelaskan gejala pada
bersihan pola nafas yang tidak efektif
1.3.3
Menjelaskan gangguan
pertukaran gas pada pola nafas
1.3.4
Menjelaskan beberapa
jenis asam-basa pada pola nafas
1.4
Manfaat
Untuk mengetahui
dan memahami ketidakefektifan pola nafas,barsihan jalan nafas,gangguan pertukaran
gas serta ketidak seimbangan asam-basa pada pola nafas.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pola Nafas Tidak
Efektif
- Ketidakefektifan pola nafas merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan ventilasi yang adekuat, aktual, atau potensial , karena perubahan pola nafas .
- Batasan karakteristik :
1. mayor
(harus ada)
-
perubahan frekwensi dan
pola pernafasan (dari nilai dasar), perubahan nadi ( frekwensi, irama,
kwalitas).
2. Minor
(mungkin ada)
-
ortopnea : pernafasan
disritmik.
-
Takipnea , hiperpnea,
hiperventilasi: pernafasan yang hati-hati.
- Faktor yang berhubungan : lihat resiko perubahan fungsi pernafasan.
- Konsep utama
1. Pertimbangan
umum yaitu hiperventilasi merupakan pernafasan berlebih yang disertai penurunan
PcO2 dan alkalosis repiratorik. Penyebab sindrom hiperventilasi adalah organik
(pengaruh obat , lesi pada SSP) , psikologis (respon terhadap ketinggian ,panas
, olah raga ) , emosional (kecemasan, histeria, rasa marah, deepresi) dan
kebiasaan bernafas yang salah yang sering dilakukan (bernafas cepat dan dangkal
) (porth, 1998).
- Kriteria hasil
1. indikator
-
memiliki frekwensi
pernafasan dalam batas normal dibandingkan nilai dasar (8-24/menit).
-
Mengekspresikan redanya
(membaiknya ) perasaan sesak nafas. Menyebutkan faktor penyebab , berikut cara
untuk mencegah atau mengatasinya.
2.2 Bersihan jalan napas
tidak efektif
- Ketidakefektifan bersihan jalan napas merupakan kondisi ketika individu mengalami ancaman pada status pernapasan mereka akibat ketidak mampuan untuk batuk secara efektif.
- Batasan karakteristik
1. mayor
(harus ada)
-
batuk tidak efektif /
tidak ada batuk .
-
Ketidakmampuan untuk
mengeluiarkan secret dari jalan nafas .
2. minor
(mungkin ada)
-
bunyi nafas abnormal.
-
Jumlah, irama, dan kedalaman pernafasan
abnormal.
- Faktor yang berhubungan : lihat resiko ketidakefektifan fungsi pernafasan.
- Konsep utama lihat resiko ketidakefektifan fungsi pernafasan.
- Kriteria hasil : individu tidak akan mengalami aspirasi. Indikator : (mendemonstrasikan upaya batuk yang efektif dan peniungkatan pertukaran gas, menjelaskan tentang rasional intervensi untuk meningkatkan batuk).
- Intervensi umum : intervensi keperawatan untuk diagnosis ketidakefektifan bersihan jalan nafas mewakili intervensi untuk setiap individu dengan diagnosis keperawatan ini , tanpa melihat faktor yang berhubungan .
- Rasional: batuk yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelelahan dan tidak efektif , dan bisa menyebabkan bronkitis. Latian nafas dalam dapat melebarkan jalan nafas, menstimulasi produksi surfaktan , dan mengembangkan permukaan jaringan paru sehingga meningkatkan pertukaran gas. Duduk pada posisi tegak menyebabkan organ abdomen terdorong menjauhi paru , akibatnya pengembangan paru menjadi lebih besar. Pernafasan diafragma mengurangi frekwensi pernafasan dan meningkatkan ventilasi alveolat. Meningkatkan volume udara dalam paru mendukung pengeluaran secret. Secret yang kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan hentu mucus ; kondisi ini dapat menimbulkan etelektasis. Hygiene oral yang baik meningkatkan perasaan sehat dan mencegah bau mulut. Secret harus cukup encer agar mudah untuk dikeluarkan. Nyeri atau rasa takut terhadap nyeri dapat menghambat partisipasi klien dalam melakukan lattian nafas dalam dan batuk.
2.3
Gangguan
pertukaran Gas
a. Gangguan
pertukaran gas merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan aliran gas
(oksigen dan karbon dioksida) yang aktual atau potensial antara alveoli paru
dan sistem vaskuler .
b. Batasan
karakteristik
1. mayor
(harus ada)
-
dispnea saat melakukan
aktifitas yang benar .
2. minor
(mungkin ada)
-
kecenderungan untuk
melakukan posisi tiga-titik (duduk,satu tangan pada setiap lutut, membungkuk
kedepan).
-
Bernapas melalui bibir
dengan fase ekspresi yang lama. Konfusi/agitasi.
-
Letargi dan kelelahan.
-
Peningkatan resistensi
vaskular paru(peningkatan tekanan arteri paru)/ventrikular kanan.
-
Penurunan motilitas
lambung , pengosongan lambung yang lama . penurunan isi oksigen, penurunan
saturasi oksigen , peningkatan PcO2 , yang diukur dengan analisa gas darah.
-
Sianosis.
2.4 Gangguan keseimbangan asam basa
a.
Gangguan keseimbangan asam basa dapat menyebabkan gangguan pada tubuh ,
sehiungga akan muncul manifestasi klinis ( tanda dan gejala ) dari masing –
masing jenis gangguan asam basa.
b.
Gangguan keseimbangan asam basa ada 2 jenis yaitu asidosis dan alkolosis. Untuk
lebih memahaminya, berikut ini akan dijelaskan mengenai gangguan keseimbangan
asam basa secara sederhana.
1. Asidosis
metabolik
Bila
terjadi penurunan pH atau terjadi penambahan keasaman , bikarbonat akan
mengompensasinya. Namun , cadangan bikarbonat menjadi berkurang apabila
produksi asam masih terus berlanjut maka bufer tidak mampu untuk mengompensasi
dan timbullah asidosis metabolik
Peningkatan
produksi asam terjadi pada waktu timbul ketoasidosis, asidosis uremia, dan asidosis
laktat. Hasil pemeriksaan laboraturium pada klien asidosis metabolik akan
menunjukkan penurunan pH, PaCO2 normal lama – lama akan menurun
karena proses kompensasi, HCO3- menurun , pH urine kurang
dari 6,0 dan pH darah kurang dari 7,33. Kompensasi yang dilakukan oleh tubuh
dalam keadaan ini adalah hiperventilasi untuk mengeluarkan CO2.
2. Alkalosis
metabolik
Bila
kehilangan asam melampaui produksi asam, ion – ion hidrogen hilang dari cairan
tubuh dan terjadi kelebihan HCO3-. Kondisi ini disebut
alkalosis metabolik .
Hasil pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan pH
meningkat, PaCO2 normal tetapi mulai baik, HCO3-
meningkat, dan pH urine lebih besar dari 7,0. Pada klien alkolosis metabolik
akan terjadi depresi pernafasan yang bertujuan untuk menahan CO2, sehingga
dapat dikombinasikan dengan ion hidrogen untuk membentuk asam karbonat. Oleh
sebab itu, pada klien yang mengalami alkolosis metabolik diupayakan untuk
menggunakan masker Rebreathing agar CO2 dapat dihirup kembali.
3. Asidosis
respiratorik
Setiap
kondisi yang menurunkan ventilasi dapat meningkatkan konsentrasi CO2
dan berdampak adanya peningkatan asam karbonat. Kondisi ini disebut asidosis
respiratorik.
Hasil
pemeriksaan laboraturium menunjukkan pH menurun, PaCO2 meningkat,
HCO3- normal tetapi kemudian meningkat kerena kompensasi,
dan pH urine berkurang dari 6,0.kompensasi yang dilakukan oleh tubuh adalah
produksi bikarbonat oleh ginjal meningkat, ekskresi ion hidrogen ke urine
meningkat. Untuk meningkatkan pengeluarkan CO2 dapat dilakukan dengan
latihan napas dalam dan purse lips breathing.
4. Alkalosisi
respiratorik
Penyebab
yang dapat menimbulkan alkalosis respiratorik adalah hiperventilasi. Hal ini
karena banyak CO2 yang terbuang sehingga ion hodrogen menurun.
Hasil
pemeriksaan laboraturium menunjukkan pH meningkat, PaCO2 menurun,
HCO3- normal tetapi kemudian menurun untuk kompensasi,
dan pH urine lebih besar 7,0.kompensasi yang dilakukan tubuh adalah ginjal
meningkatkan ekskresi ion-ion HCO3- , serta kecepatan dan
kedalaman bernapas menurun.
- Tanda dan gejala gangguan asam basa.
|
Gangguan Asam Basa
|
Tanda dan gejala
|
|
Asidosis
Metabolik
|
Pernapasan
kussmaul, hipotensi, letargi, mual, dan muntah.
|
|
Alkolosis
Metabolik
|
Nonspesifik :
refleksi hiperaktif, tetani, hipertensi, kram otot, dan kelemahan.
|
|
Asidosis
Respiratorik
|
Tanda – tanda
narkosis CO2 : sakit kepala, letargi, mengantuk, koma, peningkatan
frekuensi jantung, hipertensi, berkeringat, penurunan responsivitas,
papiledema, dan dispnew (bisa ada atau tidak ada).
|
|
Alkalosis
Respiratorik
|
Gejala tak
jelas : pusing, kebas, kesemutan ekstremitas, kram otot, tetani, kejang,
peningkatan refleksitendon dalam, aritmia, dan hiperventilasi.
|
Sumber : hudak
dan gallo 1996
Apabila terjadi gangguan
keseimbangan asam basa, maka tubuh akan melakukan kompensasi. Proses kpmpensasi
yang dilakukan oleh tubuh akan menghasilkan perubahan pada hasil analisa gas
darah yaitu perubahan pada nilai pH, PaCO2, dan HCO3-.
|
Gangguan Keseimbangan
Asam Basa dan Kompensasi
|
Nilai Analisis Gas
Darah
|
||
|
pH
|
Pa CO2
|
HCO3-
|
|
|
Asidosis Metabolik
|
Normal
|
|
|
|
Alkalosis Metabolik
|
Normal
|
|
|
|
Asidosis Respiratorik
|
Normal
|
|
Normal
|
|
Alkalosis
Respiratorik
|
Normal
|
|
|
Kondisi Tubuh
yang d. Kondisi Tubuh Yang Menyebabkan Perubahan
Keseimbangan Asam Basa
Beberapa
kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan asam basa,
antara lain gangguan metabolisme dan kehilangan cairan.
1. Gangguan
metabolisme
Pada
klien yang mengalami gangguan metabolisme, misalnya diabetes melitus,
penggunaan glukosa sebagai sumber energi terganggu sehingga digunakan asam amino
dan lemak sebagai sumber energi. Penggunaan asam amino yang banyak akan
menghasilkan peningkatan benda keton yang bersifat asam. Begitu pula terhadap
lemak yang banyak digunakan akan menyebabkan peningkatan asam lemak. Hal
tersebut mengakibatkan asam basa yaitu asidosis atau sering disebut
ketoasidosis.
2. Kehilanagn
cairan
Kehilanagn
cairan dalam tubuh atau dehidrasi dapat menurunkan volume darah dan menyebabkan
syok hipovolemik. Akibatnya aliran darah menjadi lambat dan perfusi oksigen ke
jaringan menurun, sehingga suplai oksigen ke jaringan pun menurun. Penurunan
suplai oksigen ini menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob yang akan
meningkatkan produksi asam laktat, sehingga terjadilah asidosis.
Bab
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Perubahan
pola nafas terjadi apabila kondisi seseorang mengalami penurunan, sehingga pada
pola nafasnya menjadi tidak efektif. Pada bersihan jalan nafas yang tidak
efektif terjadi apabila kondisi seseorang mengalami suatu ancaman status
pernafasannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuan batuk secara efektif.
Gangguan pertukaran gas terjadi jika kondisiseseorang mengalami penurunan
aliran gas (oksigen dan karbon dioksida) yang potensial pada alveoli paru dan
sistem vaskuer, maka terjadi gangguan keseimbangan asam basa pada tubuh yang
muncul melalui tanda dan gejalanya.
3.2
Saran
Semoga
dengan adanya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta ilmu
pengetahuan yang dan bermanfaat bagi para pembacanya. Jika ada kesalahan yang
ada di dalam makalah ini, kami meminta maaf. Tim penulis menerima sarannya demi
perbaikan makalah ini agar lebih baik dimasa depan nanti.
Daftar Pustaka
Asmadi
. 2009. Teknik Prosedural Keperawatan :
Konsep dan Aplikasi kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.
Horne,
M.M., dan P.L. swearingen. 2001. Seri
Pedoman Praktis Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa. Jakarta:
ECG.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar