Sabtu, 28 September 2013

makalah kelompok 9



Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pengkajian Keperawatan Terkait Sistem Pencernaan.



Di susun oleh :
  1. Dessy Eka Mariyani                (121.0022)
  2. Fachrizal Aulia                        (121.0034)
  3. Jihan Fahira Aulia                   (121.0052)
  4. Nirota Zuriga Purwanto          (121.0072)
  5. Riska Arini                              (121.0088)
  6. Sri Dianti                                 (121.0100)


STKES Hang Tuah Surabaya - Prodi S1 Keperawatan
Tahun Ajaran 2013/1014




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Sistem Respirasi ini dengan judul “Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ; Pengkajian Keperawatan Terkait Sistem Pencernaan ” tepat pada waktunya.Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu metode pembelajaran bagi mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan HangTuah Surabaya.

Kami sadar akan segala kekurangan dalam pembuatan makalah ini,dan kami akan sangat bangga apabila makalah yang kami susun ini mendapatkan saran maupun kritik yang bersifat membangun. Tidak lupa kami haturkan permohonan maaf apabila makalah yang kami buat terdapat suatu kesalahan.

Terakhir kami sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu tersusunnya makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan bagi para pembaca.









                                                                                                               Tim penulis








DAFTAR ISI

Cover................................................................................................................................      i
Kata pengantar ................................................................................................................       ii
Daftar isi .........................................................................................................................       iii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................         1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................        1
1.3 Tujuan.......................................................................................................................        1
1.4 Manfaat......................................................................................................................       1
Bab II Pembahasan
2.1 Ketidakefektifan Pola Nafas......................................................................................      2
2.2 Ketidakefektifan Jalan Nafas.....................................................................................      3
2.3 Gangguan Pertukaran Gas.........................................................................................       4
2.4 Gangguan Keseimbangan Asam-Basa.......................................................................       5
Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan..............................................................................................................         9
3.2 Saran..........................................................................................................................       9
Daftar Pustaka...............................................................................................................................      iv








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
System respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang merupakan parameter kesehatan manusia. Jika salah satu system respirasi terganggu maka secara system lain yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat menimbulkan terganggunya proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Pernapasan atau proses respirasi merupakan proses pengambilan oksigen, pengeluaran karbondioksida, dan pengunaan energi yang dihasilkan oleh tubuh. Organ tubuh yang berfungsi dalm proses ini adalah hidung, faring ( tekak ), trakea (batang tenggorokan ), bronkus ( cabang batang tenggorokan, dan paru - paru ).

Respirasi merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan (penafasan dalam) dan yang terjadi di dalam paru-paru (pernafasan luar). Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri melangsungkan proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbon dioksida dan air dihilangkan (Pearce, 2008).

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan ketidakefektifan pola nafas?
1.2.2        Bagaimanakah gejala pada bersihan jalan nafas yang tidak efektif?
1.2.3        Bagaimana terjadinya gangguan pertukaran gas pada pola nafas?
1.2.4        Ada berapa jenis asam-basa pada pola nafas?
1.3  Tujuan
1.3.1         Menjelaskan pengertian dari ketidakefektifan pola nafas
1.3.2         Menjelaskan gejala pada bersihan pola nafas yang tidak efektif
1.3.3         Menjelaskan gangguan pertukaran gas pada pola nafas
1.3.4         Menjelaskan beberapa jenis asam-basa pada pola nafas
1.4  Manfaat
Untuk mengetahui dan memahami ketidakefektifan pola nafas,barsihan jalan nafas,gangguan pertukaran gas serta ketidak seimbangan asam-basa pada pola nafas.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pola Nafas Tidak Efektif
  1. Ketidakefektifan pola nafas merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan ventilasi yang adekuat, aktual, atau potensial , karena perubahan pola nafas .
  2. Batasan karakteristik :
1.      mayor (harus ada)
-          perubahan frekwensi dan pola pernafasan (dari nilai dasar), perubahan nadi ( frekwensi, irama, kwalitas).
2.      Minor (mungkin ada)
-          ortopnea : pernafasan disritmik.
-          Takipnea , hiperpnea, hiperventilasi: pernafasan yang hati-hati.
  1. Faktor yang berhubungan : lihat resiko perubahan fungsi pernafasan.
  2. Konsep utama
1.    Pertimbangan umum yaitu hiperventilasi merupakan pernafasan berlebih yang disertai penurunan PcO2 dan alkalosis repiratorik. Penyebab sindrom hiperventilasi adalah organik (pengaruh obat , lesi pada SSP) , psikologis (respon terhadap ketinggian ,panas , olah raga ) , emosional (kecemasan, histeria, rasa marah, deepresi) dan kebiasaan bernafas yang salah yang sering dilakukan (bernafas cepat dan dangkal ) (porth, 1998).
  1. Kriteria hasil
1.      indikator 
-          memiliki frekwensi pernafasan dalam batas normal dibandingkan nilai dasar (8-24/menit).
-          Mengekspresikan redanya (membaiknya ) perasaan sesak nafas. Menyebutkan faktor penyebab , berikut cara untuk mencegah atau mengatasinya.
2.2  Bersihan jalan napas tidak efektif
  1.  Ketidakefektifan bersihan jalan napas merupakan kondisi ketika individu mengalami ancaman pada status pernapasan mereka akibat ketidak mampuan untuk batuk secara efektif.
  2. Batasan karakteristik
1.      mayor (harus ada) 
-          batuk tidak efektif / tidak ada batuk .
-          Ketidakmampuan untuk mengeluiarkan secret dari jalan nafas .
2.      minor (mungkin ada)
-          bunyi nafas abnormal.
-           Jumlah, irama, dan kedalaman pernafasan abnormal.
  1. Faktor yang berhubungan : lihat resiko ketidakefektifan fungsi pernafasan.
  2. Konsep utama lihat resiko ketidakefektifan fungsi pernafasan.
  3. Kriteria hasil : individu tidak akan mengalami aspirasi. Indikator : (mendemonstrasikan upaya batuk yang efektif dan peniungkatan pertukaran gas, menjelaskan tentang rasional intervensi untuk meningkatkan batuk).
  4. Intervensi umum : intervensi keperawatan untuk diagnosis ketidakefektifan bersihan jalan nafas mewakili intervensi untuk setiap individu dengan diagnosis keperawatan ini , tanpa melihat faktor yang berhubungan .
  5. Rasional: batuk yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kelelahan dan tidak efektif , dan bisa menyebabkan bronkitis. Latian nafas dalam dapat melebarkan jalan nafas, menstimulasi produksi surfaktan , dan mengembangkan permukaan jaringan paru sehingga meningkatkan pertukaran gas. Duduk pada posisi tegak menyebabkan organ abdomen terdorong menjauhi paru , akibatnya pengembangan paru menjadi lebih besar. Pernafasan diafragma mengurangi frekwensi pernafasan dan meningkatkan ventilasi alveolat. Meningkatkan volume udara dalam paru mendukung pengeluaran secret. Secret yang kental sulit untuk dikeluarkan dan dapat menyebabkan hentu mucus ; kondisi ini dapat menimbulkan etelektasis. Hygiene oral yang baik meningkatkan perasaan sehat dan mencegah bau mulut. Secret harus cukup encer agar mudah untuk dikeluarkan. Nyeri atau rasa takut terhadap nyeri dapat menghambat partisipasi klien dalam melakukan lattian nafas dalam dan batuk.
2.3                          Gangguan pertukaran Gas
a.    Gangguan pertukaran gas merupakan kondisi ketika individu mengalami penurunan aliran gas (oksigen dan karbon dioksida) yang aktual atau potensial antara alveoli paru dan sistem vaskuler .
b.    Batasan karakteristik
1.    mayor (harus ada)
-          dispnea saat melakukan aktifitas yang benar .
2.    minor (mungkin ada)
-          kecenderungan untuk melakukan posisi tiga-titik (duduk,satu tangan pada setiap lutut, membungkuk kedepan).
-          Bernapas melalui bibir dengan fase ekspresi yang lama. Konfusi/agitasi.
-          Letargi dan kelelahan.
-          Peningkatan resistensi vaskular paru(peningkatan tekanan arteri paru)/ventrikular kanan.
-          Penurunan motilitas lambung , pengosongan lambung yang lama . penurunan isi oksigen, penurunan saturasi oksigen , peningkatan PcO2 , yang diukur dengan analisa gas darah.
-           Sianosis.

 2.4  Gangguan keseimbangan asam basa
a. Gangguan keseimbangan asam basa dapat menyebabkan gangguan pada tubuh , sehiungga akan muncul manifestasi klinis ( tanda dan gejala ) dari masing – masing jenis gangguan asam basa.
b. Gangguan keseimbangan asam basa ada 2 jenis yaitu asidosis dan alkolosis. Untuk lebih memahaminya, berikut ini akan dijelaskan mengenai gangguan keseimbangan asam basa secara sederhana.
1.      Asidosis metabolik
Bila terjadi penurunan pH atau terjadi penambahan keasaman , bikarbonat akan mengompensasinya. Namun , cadangan bikarbonat menjadi berkurang apabila produksi asam masih terus berlanjut maka bufer tidak mampu untuk mengompensasi dan timbullah asidosis metabolik
Peningkatan produksi asam terjadi pada waktu timbul ketoasidosis, asidosis uremia, dan asidosis laktat. Hasil pemeriksaan laboraturium pada klien asidosis metabolik akan menunjukkan penurunan pH, PaCO2 normal lama – lama akan menurun karena proses kompensasi, HCO3- menurun , pH urine kurang dari 6,0 dan pH darah kurang dari 7,33. Kompensasi yang dilakukan oleh tubuh dalam keadaan ini adalah hiperventilasi untuk mengeluarkan CO2.
2.      Alkalosis metabolik
Bila kehilangan asam melampaui produksi asam, ion – ion hidrogen hilang dari cairan tubuh dan terjadi kelebihan HCO3-. Kondisi ini disebut alkalosis metabolik .
Hasil  pemeriksaan laboratorium akan menunjukkan pH meningkat, PaCO2 normal tetapi mulai baik, HCO3- meningkat, dan pH urine lebih besar dari 7,0. Pada klien alkolosis metabolik akan terjadi depresi pernafasan yang bertujuan untuk menahan CO2, sehingga dapat dikombinasikan dengan ion hidrogen untuk membentuk asam karbonat. Oleh sebab itu, pada klien yang mengalami alkolosis metabolik diupayakan untuk menggunakan masker Rebreathing agar CO2 dapat dihirup kembali.
3.      Asidosis respiratorik
Setiap kondisi yang menurunkan ventilasi dapat meningkatkan konsentrasi CO2 dan berdampak adanya peningkatan asam karbonat. Kondisi ini disebut asidosis respiratorik.
Hasil pemeriksaan laboraturium menunjukkan pH menurun, PaCO2 meningkat, HCO3- normal tetapi kemudian meningkat kerena kompensasi, dan pH urine berkurang dari 6,0.kompensasi yang dilakukan oleh tubuh adalah produksi bikarbonat oleh ginjal meningkat, ekskresi ion hidrogen ke urine meningkat. Untuk meningkatkan pengeluarkan CO2 dapat dilakukan dengan latihan napas dalam dan purse lips breathing.
4.      Alkalosisi respiratorik
Penyebab yang dapat menimbulkan alkalosis respiratorik adalah hiperventilasi. Hal ini karena banyak CO2 yang terbuang sehingga ion hodrogen menurun.
Hasil pemeriksaan laboraturium menunjukkan pH meningkat, PaCO2 menurun, HCO3- normal tetapi kemudian menurun untuk kompensasi, dan pH urine lebih besar 7,0.kompensasi yang dilakukan tubuh adalah ginjal meningkatkan ekskresi ion-ion HCO3- , serta kecepatan dan kedalaman bernapas menurun.
    1. Tanda dan gejala gangguan asam basa.
Gangguan Asam Basa
Tanda dan gejala
Asidosis Metabolik
Pernapasan kussmaul, hipotensi, letargi, mual, dan muntah.
Alkolosis Metabolik
Nonspesifik : refleksi hiperaktif, tetani, hipertensi, kram otot, dan kelemahan.
Asidosis Respiratorik
Tanda – tanda narkosis CO2 : sakit kepala, letargi, mengantuk, koma, peningkatan frekuensi jantung, hipertensi, berkeringat, penurunan responsivitas, papiledema, dan dispnew (bisa ada atau tidak ada).
Alkalosis Respiratorik
Gejala tak jelas : pusing, kebas, kesemutan ekstremitas, kram otot, tetani, kejang, peningkatan refleksitendon dalam, aritmia, dan hiperventilasi.
Sumber : hudak dan gallo 1996
            Apabila terjadi gangguan keseimbangan asam basa, maka tubuh akan melakukan kompensasi. Proses kpmpensasi yang dilakukan oleh tubuh akan menghasilkan perubahan pada hasil analisa gas darah yaitu perubahan pada nilai pH, PaCO2,  dan HCO3-.
Gangguan Keseimbangan Asam Basa dan Kompensasi

Nilai Analisis Gas Darah
pH
Pa CO2
HCO3-
Asidosis Metabolik
  • Terkompensasi sebagian
  • Terkompensasi penuh

Normal
Normal
Alkalosis Metabolik
  • Terkompensasi sebagian
  • Terkompensasi penuh

Normal
Normal
Asidosis Respiratorik
  • Terkompensasi sebagian
  • Terkompensasi penuh

Normal
Normal
Alkalosis Respiratorik
  • Terkompensasi sebagian
  • Terkompensasi penuh

Normal
Normal


Kondisi Tubuh yang d.  Kondisi Tubuh Yang Menyebabkan Perubahan Keseimbangan Asam Basa
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan asam basa, antara lain gangguan metabolisme dan kehilangan cairan.
1.      Gangguan metabolisme
Pada klien yang mengalami gangguan metabolisme, misalnya diabetes melitus, penggunaan glukosa sebagai sumber energi terganggu sehingga digunakan asam amino dan lemak sebagai sumber energi. Penggunaan asam amino yang banyak akan menghasilkan peningkatan benda keton yang bersifat asam. Begitu pula terhadap lemak yang banyak digunakan akan menyebabkan peningkatan asam lemak. Hal tersebut mengakibatkan asam basa yaitu asidosis atau sering disebut ketoasidosis.
2.      Kehilanagn cairan
Kehilanagn cairan dalam tubuh atau dehidrasi dapat menurunkan volume darah dan menyebabkan syok hipovolemik. Akibatnya aliran darah menjadi lambat dan perfusi oksigen ke jaringan menurun, sehingga suplai oksigen ke jaringan pun menurun. Penurunan suplai oksigen ini menyebabkan terjadinya metabolisme anaerob yang akan meningkatkan produksi asam laktat, sehingga terjadilah asidosis.








Bab III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Perubahan pola nafas terjadi apabila kondisi seseorang mengalami penurunan, sehingga pada pola nafasnya menjadi tidak efektif. Pada bersihan jalan nafas yang tidak efektif terjadi apabila kondisi seseorang mengalami suatu ancaman status pernafasannya sehingga mengakibatkan ketidakmampuan batuk secara efektif. Gangguan pertukaran gas terjadi jika kondisiseseorang mengalami penurunan aliran gas (oksigen dan karbon dioksida) yang potensial pada alveoli paru dan sistem vaskuer, maka terjadi gangguan keseimbangan asam basa pada tubuh yang muncul melalui tanda dan gejalanya.
3.2  Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas serta ilmu pengetahuan yang dan bermanfaat bagi para pembacanya. Jika ada kesalahan yang ada di dalam makalah ini, kami meminta maaf. Tim penulis menerima sarannya demi perbaikan makalah ini agar lebih baik dimasa depan nanti.







Daftar Pustaka

Asmadi . 2009. Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika.
Horne, M.M., dan P.L. swearingen. 2001. Seri Pedoman Praktis Keseimbangan Cairan, Elektrolit dan Asam Basa. Jakarta: ECG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar