MAKALAH
SISTEM RESPIRASI 1
“Penyakit
pada Sistem Respirasi”
Disusun
Oleh :
S1-1B
1.
Arinda
Riskiyatul Laily (121.0016)
2.
Frisca
Putri Maharani (121.0040)
3.
Lucky
Pranatha Putra (121.0056)
4.
Putri
Dwi Kurniawati (121.0078)
5.
Winda
Zunita Mayangsari (121.0104)
6.
Yuniara
Dwi Perwiraningrum (121.0110)
Prodi
S1 – Keperawatan
STIKES
HANG TUAH SURABAYA
TAHUN
AJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T. karena dengan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga makalah kami yang berjudul “Penyakit pada Sistem
Respirasi” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah
ini kami susun sesuai dengan kebutuhan para pembaca, guru atau dosen dan tenaga
kesehatan lainnya yang haus akan bahan bacaan. Terima kasih kami ucapkan kepada
semua pihak yang telah membantu kami, sehingga makalah ini dapat kami susun
dengan baik.
Kritik
dan saran yang membangun sangat kami butuhkan demi kesempurnaan makalah kami
selanjutnya. Besar harapan kami agar makalah ini bisa bermanfaat bagi para perawat
pada khususnya dan tenaga kesehatan pada umumnya.
Surabaya,
Tim
Penulis
DAFTAR
ISI
Halaman
Cover................................................................................................................
i
Kata
Pengantar.................................................................................................
ii
Daftar
Isi...........................................................................................................
iii
Bab
I Pendahuluan...........................................................................................
1
1.1 Latar
Belakang............................................................................................
1
1.2 Rumusan
Masalah.......................................................................................
1
1.3 Tujuan.........................................................................................................
2
1.4 Manfaat.......................................................................................................
2
Bab
II Pembahasan...........................................................................................
3
2.1
Bronchitis....................................................................................................
3
2.2
Bronchiolitis................................................................................................
5
2.3
Tonsilitis......................................................................................................
7
2.4
Faringitis.....................................................................................................
9
2.5
Asma...........................................................................................................
11
2.6
Infeksi Saluran Pernafasan Akut................................................................
14
Bab
III Penutup................................................................................................
17
3.1
Kesimpulan.................................................................................................
17
3.2
Saran...........................................................................................................
17
Daftar
Pustaka..................................................................................................
18
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Mempelajari mata kuliah respirasi pada
jurusan keperawatan sangatlah penting karena ini menyangkut sistem pernafasan
yg merupakan sumber nyawa bagi organ-organ yang lain. Dengan adanya ilmu ini
maka akan memperdalam pengetahuan kita mengetahui organ-organ yang berperan
pada sistem pernafasan.
Sistem pernafasan (respirasi) sendiri
adalah proses mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel –
sel tubuh untuk mentranspor karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan
sel – sel tubuh kembali ke atmosfer.
Sistem pernafasan bagi manusia
merupakan hal penting oleh karena itu organ-organ yang berperan harus dalam
kondisi yang sempurna. Karena manusia setiap detiknya membutuhkan oksigen. Kita
akan segera mengetahuinya dan tau cara penanganan yang terbaik. Memahami fungsi
dan peran masing-masing organ sangatlah penting. Jika ada disfungsi pada salah
satu organ pernafasan maka disitulah keuntungan mempelajari ilmu repsirasi agar
dapat segera memperbaiki kesalahan yang ada pada organ yang bermasalah.
Selain itu, kita juga perlu mengetahui
berbagai penyakit yang ada pada sistem respirasi. Berbagai penyakit pada sistem
respirasi yaitu bronchitis, bronchiolitis, tonsilitis, faringitis, asma, ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Akut).
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa
saja penyakit pada sistem pernafasan ?
2. Apa
saja tanda dan gejala yang terlihat dari masing-masing penyakit?
3. Apa
penyebab dari masing-masing penyakit?
4. Apa
saja diagnosis yang terdapat pada masing-masing penyakit?
5. Bagaimana
pengobatan pada macam-macam penyakit di sistem pernafasan?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui lebih jelas macam - macam penyakit pada sistem pernafasan.
2. Untuk
mengetahui tanda dan gejala yang terlihat dari masing-masing penyakit.
3. Untuk
mengetahui penyebab dari masing-masing penyakit.
4. Untuk
mengetahui diagnosis yang terdapat pada masing-masing penyakit.
5. Untuk
mengetahui pengobatan pada macam-macam penyakit di sistem pernafasan
1.4
Manfaat
1. Sebagai
media pembelajaran mahasiswa.
2. Untuk
mengetahui berbagai penyakit pada sistem pernafasan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bronchitis
v
Definisi
Bronkitis
adalah suatu peradangan pada cabang tenggorok (bronchus) (saluran udara ke
paru-paru). Penyakit ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya akan sembuh
sempurna. Tetapi pada penderita yang memiliki penyakit menahun (misalnya
penyakit jantung atau penyakit paru-paru) dan pada usia lanjut, bronkitis bisa
bersifat serius.
v
Tanda
dan Gejala
- Batuk
berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan).
- Sesak
napas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan.
- Sering
menderita infeksi pernapasan (misalnya flu).
- Sesak
nafas.
- Lelah.
- Pembengkakan
pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan, wajah, telapak tangan atau
selaput lendir yang berwarna kemerahan, pipi tampak kemerahan, sakit kepala.
- Gangguan
penglihatan.
v
Penyebab
Penyebab
bronkitis dibagi menjadi dua jenis yaitu Bronkitis
Infeksiosa dan Bronkitis Iritatif.
Serangan bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit
paru-paru dan saluran pernapasan menahun. Infeksi berulang bisa merupakan
akibat dari: sinusitis kronis, bronkiektasis, alergi, pembesaran amandel dan
adenoid pada anak-anak.
·
Bronkitis Infeksiosa:
Bronkitis
infeksiosa disebabkan virus, bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri
(Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia). Bronkitis infeksiosa antara lain juga
disebabkan oleh: seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek, hidung meler,
lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam ringan, nyeri tenggorokan.
·
Bronkitis Iritatif :
Disebabkan
oleh berbagai jenis debu, asap dari asam kuat, amonia, beberapa pelarut
organik, klorin, hidrogen sulfida, sulfur dioksida dan bromine, polusi udara
yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida, tembakau dan rokok
lainnya.
v
Diagnosis
Diagnosis
biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir. Pada
pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi
pernapasan yang abnormal. Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan: tes fungsi
paru-paru, gas darah arteri, rontgen dada.
v
Pengobatan
·
Tindakan Perawatan:
Pada tindakan perawatan yang penting
ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan lender. Tindakan perawatan yang lain
yaitu: berjemur dipagi hari, sering mengubah posisi, banyak minum, inhalasi, nebulizer.
Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu diberikan
minum susu atau makanan lain.
·
Tindakan Medis:
- Jangan
beri obat antihistamin berlebih.
- Beri
antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bacterial.
- Dapat
diberi efedrin 0,5 – 1 mg/KgBB tiga kali sehari.
- Chloral
hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif.
2.2 Bronchiolitis
v
Definisi
Bronkiolitis
adalah penyakit saluran pernafasan bawah yang ditandai dengan inflamasi bronkus
kecil dan bronkiolus yang lebih kecil. Bronkiolitis paling sering terjadi di
musim dingin dan awal musim semi. Biasanya bronkiolitis terjadi pada anak-anak yang
berumur di bawah 2 tahun sebagai akibat infeksi virus, namun tidak jarang
brokiolitis terjadi pada orang dewasa.
v Tanda dan Gejala
- Peradangan
bronkiolus (cabang terkecil saluran nafas yang membawa udara dari saluran
bronkus besar ke kantung udara yang kecil di paru) selama 1-4 hari, kemudian
fase akut selama 2-6 hari, akan sembuh dalam 7-14 hari.
- Kesulitan
bernafas mendadak, biasanya didahului demam dan batuk ringan.
- Cuping
hidung mengembang dan retraksi.
- Nafas
berbunyi.
- Nafas
cepat dan dangkal (60-80 kali/menit).
- Otot-otot
sela tulang iga tampak cekung (retraksi).
- Kulit
dan kuku kebiruan.
- Mengi
ekspirasi dengan awitan akut.
- Produksi
mukus meningkat.
- Iritabilitas.
v Penyebab
Edema
membran mukosa yang melapisi dinding bronkiale, ditambah infiltrasi sel dan
produksi mukus yang meningkat, menimbulkan obstruksi bronkiolus. Obstruksi ini
menyebabkan hiperinflasi daerah yang sakit karena udara yang diekspirasi
terperangkap di distal dan menimbulkan hipoksemia. Obstruksi ini tidak merata
di seluruh paru. Selain itu, resistensi terhadap aliran udara meningkat.
Keadaan ini menyebabkan terjadinya dispnea, takipnea, dan volume tidal rendah
yang dapat mengakibatkan hiperkarbia pada individu yang mengalami gejala berat.
Infeksi paling sering disebabkan virus sinsitial pernafasan (respiratory syncytial virus, RSV). RSV
ditularkan melalui droplet. Agens penyebab lain adalah adenovirus dan virus
para-influenza.
Bronkiolitis
tidak hanya disebabkan oleh infeksi, penyebab lainnya adalah:
-
Inhalasi gas toksik,
karbon tetraklorida, asam klorida, gas klorin, amonia, dan sulfur dioksida.
-
Infeksi virus, yaitu respiratory syncytial virus, adenovirus,
rhinovirus, virus parainfluenza, dan Mycoplasma
pneumoniae.
-
Penyakit jaringan ikat.
-
Faktor idiopatik.
v Diagnosis
- Studi
radiografi dada-hiperinflasi dengan udara yang terperangkap, atelektasis;
infiltrasi perihilar ringan; kriteria diagnostik sangat bervariasi.
- Teknik
diagnostik viral cepat terhadap RSV untuk mendeteksi RSV.
- Menganalisis
gas darah arteri untuk mengkaji pertukaran gas.
- Menghitung
sel darah putih (normal atau sedikit meningkat).
v Pengobatan
Kadang
tidak perlu diberikan pengobatan khusus.
Terapi
suportif terdiri dari:
- Pemberian oksigen
- Udara yang lembab,
- Drainase postural atau menepuk dada untuk
mengeluarkan lendir
- Istirahat yang cukup
- Pemberian cairan.
Kadang
bayi menjadi lelah dan mengalami serangan apneu (henti nafas). Jika hal ini
terjadi, dilakukan intubasi dan pemasangan ventilator. Pada bayi yang sangat
muda dan sakit berat, kadang diberikan obat anti-virus ribavirin. Obat ini
dapat mengurangi beratnya penyakit dan agar efektif harus diberikan pada awal
penyakit.
2.3 Tonsilitis
v
Definisi
Radang amandel (tonsilitis) adalah
infeksi pada amandel yang kadang mengakibatkan sakit tenggorokan dan demam. Secara
klinis peradangan ini ada yang akut (baru), ditandai dengan nyeri menelan
(odinofagi), dan tidak jarang disertai demam. Sedangkan yang sudah menahun
biasanya tidak nyeri menelan, tapi jika ukurannya cukup besar (hipertrofi) akan
menyebabkan kesulitan menelan (disfagia).
v
Tanda
dan Gejala
-
Amandel merah dan
bengkak.
-
Bagian tepi amandel
berwarna putih dan kuning.
-
Tender, kaku, dan leher
bengkak.
-
Sakit tenggorokan.
-
Sulit menelan makanan.
-
Batuk.
-
Sakit kepala.
-
Sakit mata.
-
Tubuh sakit.
-
Demam.
-
Panas dingin.
-
Hidung tersumbat.
v
Penyebab
Yang umum menyebabkan sebagian besar tonsilitis
adalah pilek virus (adenovirus, rhinovirus, influenza, coronavirus, RSV). Hal
ini juga dapat disebabkan oleh virus Epstein-Barr, herpes simpleks virus ,
cytomegalovirus, atau HIV. Yang paling umum menyebabkan kedua adalah bakteri.
Para bakteri penyebab paling umum adalah Group A-hemolitik streptokokus β
(GABHS), yang menyebabkan radang tenggorokan. Kurang bakteri penyebab umum
termasuk: Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Mycoplasma
pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, pertusis, Fusobacterium, difteri, sifilis,
dan gonore. Viral tonsillitis mungkin disebabkan oleh berbagai virus seperti
virus Epstein-Barr (penyebab infeksi mononucleosis ) atau adenovirus.
Kadang-kadang, tonsilitis disebabkan oleh infeksi dari spirochaeta dan Treponema,
dalam hal ini disebut angina Vincent atau-Vincent angina Plaut.
1)
Tonsilitis Akut
Tonsilitis Akut disebabkan oleh
streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus
pyogene, dapat juga disebabkan oleh virus.
2)
Tonsilitis Falikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya
diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut
detritus. Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat
peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
3)
Tonsilitis Lakunaris
Bercak yang berdekatan bersatu dan
mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.
4)
Tonsilitis Membranosa (Septis Sore
Throat)
Eksudat yang menutupi permukaan tonsil
yang membengkak tersebut menyerupai membran. Membran ini biasanya mudah
diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.
5)
Tonsilitis Kronik
Tonsilitis yang berluang, faktor
predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan
radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.
v Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala
dan hasil pemeriksaan fisik. Tonsil membengkak dan tampak bercak-bercak
perdarahan. Ditemukan nanah dan selaput putih tipis yang menempel di tonsil.
Membran ini bisa diangkat dengan mudah tanpa menyebabkan perdarahan. Dilakukan
pembiakan apus tenggorokan di laboratorium untuk mengetahui bakteri
penyebabnya.
v
Pengobatan
Jika penyebabnya adalah bakteri,
diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut) selama 10 hari. Jika anak
mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan. Pengangkatan
tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika: tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau
lebih/tahun, tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih/tahun dalam kurun
waktu 2 tahun, tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih/tahun dalam kurun
waktu 3 tahun, tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian
antibiotik.
2.4
Faringitis
v Definisi
Faringitis
adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau hulu
kerongkongan (faring). Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.
v
Tanda
dan Gejala
- Kering,
luka kecil atau bengkak pada tenggorokan.
- Sakit
ketika menelan, bernapas atau berbicara.
v
Penyebab
Sakit
tenggorokan biasanya terjadi karena infeksi. Sebagai contoh, jika sakit
tenggorokan disebabkan pilek, anda mungkin juga akan batuk, demam, bersin,
tidak enak badan atau hidung berlendir.
Tanda-tanda radang tenggorokan dapat menjadi
serius yang disebabkan suatu hal, seperti radang amandel atau radang karena
bakteri antara lain :
-
Putih atau nanah pada
tenggorokan atau amandel.
-
Tidak mampu menelan.
-
Radang tenggorokan
tidak membaik dengan sendirinya atau selalu timbul lagi.
-
Muntah.
-
Ruam pada kulit.
-
Sakit kepala.
-
Rasa sakit pada
tenggorokan yang parah.
-
Bengkak, kemerahan pada
amandel.
-
Demam tinggi lebih dari
38,3 Celsius pada bayi di bawah 6 bulan atau 39,4.
-
Celsius pada anak dan
orang dewasa.
v
Diagnosis
Apabila radang tenggorokan disertai dengan
demam batuk pilek maka jelas penyebabnya infeksi virus, tidak butuh pemeriksaan
apapun. Artinya, pada umumnya, diagnosis bisa ditegakkan dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Saat pemeriksaan, dokter akan melihat tenggorokan
(kemerahan, pembengkakan, nanah di tonsil) dan pembesaran KGB tonsilar.
v
Pengobatan
Sebelum memberi pengobatan, sangat
penting bagi para dokter untuk mencari penyebab radang tenggorokan guna
menegakkan diagnosa yang benar dengan tujuan mencegah pemberian antibiotik yang
tidak tepat bagi sebagian besar penderita radang tenggorokan karena dapat
menimbulkan organisme yang resisten terhadap antibiotik.
Dokter akan memeriksa tenggorokan dan
kelenjar getah bening di leher. Pendekatan lanjutannya adalah dengan tes usap
tenggorok untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri. Usap tenggorokan perlu
dilakukan jika ada dugaan diagnosis radang tenggorokan akibat bakteri
streptokokus berdasarkan temuan klinis dan epidemiologis dan pasien belum
mengkonsumsi antibiotik.
Kultur hasil usap tenggorokan biasanya
merupakan satu-satunya tes yang dibutuhkan. Namun sensitivitas terhadap
antibiotik juga perlu dilakukan pada pasien yang alergi terhadap penisilin
karena adanya bakteri streptokokus yang resisten terhadap eritromisin.
Obat yang biasanya digunakan yaitu:
antibiotik, analgesik dan antipiretik, obat kumur, multivitamin.
2.5 Asma
v
Definisi
Asma
adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas
terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan, penyempitan ini
bersifat sementara. Asma dikarakteristikkan oleh paroksisme rekurens mengi dan
dispnea yang tidak disertai oleh penyakit jantung atau penyakit lain.
v
Tanda
dan Gejala
Frekuensi
dan beratnya serangan asma bervariasi. Beberapa penderita lebih sering terbebas
dari gejala dan hanya mengalami serangan-serangan sesak napas yang singkat dan
ringan, yang terjadi sewaktu-waktu. Penderita lainnya hampir selalu mengalami
batuk dan mengi (bengek) serta mengalami serangan hebat setelah menderita suatu
infeksi virus, olah raga atau setelah terpapar oleh alergen maupun iritan.
Menangis atau tertawa keras juga bisa menyebabkan timbulnya gejala dan juga
sering batuk berkepanjangan terutama di waktu malam hari atau cuaca dingin.
Suatu serangan asma dapat terjadi secara
tiba-tiba ditandai dengan napas yang berbunyi (mengi, bengek), batuk dan sesak
napas. Bunyi mengi terutama terdengar ketika penderita menghembuskan napasnya.
Di lain waktu, suatu serangan asma terjadi secara perlahan dengan gejala yang
secara bertahap semakin memburuk. Pada kedua keadaan tersebut, yang pertama
kali dirasakan oleh seorang penderita asma adalah sesak napas, batuk atau rasa
sesak di dada. Serangan bisa berlangsung dalam beberapa menit atau bisa berlangsung
sampai beberapa jam.
v
Penyebab
Penyebab
asma yaitu mencakup emboli pulmonal, infeksi, gagal ventrikel kiri, fibrosis
kistik, defisiensi imunologis, dan penyakit pernafasan karena virus.
Patogenesis asma mengacu pada nonspesific
hyperirritability pada percabangan (pohon) trakea. Agens penyebab asma
adalah alergen, lingkungan (polusi) dan emosi atau stress.
Penyebab asma juga dapat dibagi menjadi
dua kategori utama:
·
Asma Ekstrinsik:
Secara umum mempengaruhi anak atau
remaja muda yang sering mempunyai riwayat keluarga atau pribadi tentang alergi,
bentol-bentol, ruam, dan ekzema. Hasil dari tes kulit biasanya positif pada
alergen spesifik, yang menunjukkan kemungkinan bahwa asma ekstrinsik adalah
alergis.
·
Asma Instrinsik:
Biasanya mempengaruhi orang dewasa,
termasuk mereka yang tidak mengalami asama atau alergi sebelum usia dewasa
tengah. Riwayat pribadi atau keluarga negatif untuk alergi, eksema,
bentol-bentol, dan ruam.
v
Diagnosis
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Untuk memperkuat diagnosis bisa
dilakukan pemeriksaan spirometri berulang. Spirometri juga digunakan untuk
menilai beratnya penyumbatan saluran udara dan untuk memantau pengobatan.
Menentukan
faktor pemicu asma seringkali tidak mudah. Tes kulit alergi bisa membantu
menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala asma. Jika diagnosisnya masih
meragukan atau jika dirasa sangat penting untuk mengetahui faktor pemicu
terjadinya asma, maka bisa dilakukan bronchial challenge test.
v
Pengobatan
Obat-obatan
bisa membuat penderita asma menjalani kehidupan normal. Pengobatan segera untuk
mengendalikan serangan asma berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah
serangan.
Agonis
reseptor beta-adrenergik merupakan obat terbaik untuk mengurangi serangan asma
yang terjadi secara tiba-tiba dan untuk mencegah serangan yang mungkin dipicu
oleh olahraga. Bronkodilator ini merangsang pelebaran saluran udara oleh
reseptor beta-adrenergik. Bronkodilator yang bekerja pada semua reseptor
beta-adrenergik (misalnya adrenalin), menyebabkan efek samping berupa denyut
jantung yang cepat, gelisah, sakit kepala dan tremor (gemetar) otot.
Bronkodilator yang hanya bekerja pada reseptor beta2-adrenergik (yang terutama
ditemukan di dalam sel-sel di paru-paru), hanya memiliki sedikit efek samping
terhadap organ lainnya. Bronkodilator ini (misalnya albuterol), menyebabkan
lebih sedikit efek samping dibandingkan dengan bronkodilator yang bekerja pada
semua reseptor beta-adrenergik.
2.6 Infeksi Saluran Pernafasan Akut
v
Definisi
ISPA adalah penyakit infeksi saluran
pernafasan atas. Artinya penyakit ini merupakan penyakit infeksi akut yang
mencakup pada organ saluran pernafasan seperti hidung, sinus, faring dan
laring.
v Tanda dan Gejala
Tanda-tanda laboratoris penyakit ISPA:
- Demam.
- Batuk.
- Nyeri tenggorokan (sakit ketika menelan).
- Pilek, hidung tersumbat dan
bersin-bersin.
- Suara menjadi serak.
- Lesu dan lemas.
- Frekuensi napas cepat.
- Sakit kepala, badan pegal dan nyeri
sendi.
Gejala klinis penyakit ISPA:
•
Sistem respiratorik:
Nafas cepat, napas tak teratur, retraksi
dinding dada, napas cuping hidung, sianosis,
suara napas lemah, wheezing.
•
Sistem cardial:
Takikardi, bradikardi, hipertensi,
hipotensi dan cardiac arrest.
•
Sistem cerebral:
Sakit kepala, papil edema, gelisah,
bingung, kejang, koma.
•
Sistem integumen:
Keluar keringat banyak, sakit pada
tengorokan.
v
Penyebab
ISPA adalah penyakit yang bisa
disebabkan oleh virus, jamur dan bakteri. Virus yang menyebabkan terjadinya
ISPA adalah virus Rhino, sedangkan pada bakteri yaitu bakteri Streptococcus
atau biasa dikenal dengan nama Step Throat. Penyakit ini sering muncul pada
musim pancaroba, akibatnya sirkulasi virus di udara meningkat. Selain itu perubahan dari musim
panas ke musim dingin seringkali memperlemah daya tahan tubuh anak dan
berakibat pada menurunnya kondisi kesehatan anak sehingga meraka sangat rentan
terhadap penyakit ini.
Penyebab
terjadinya ISPA adalah virus, bakteri dan jamur. Kebanyakan adalah virus.
v Diagnosis
Diagnosis
yang termasuk dalam keadaan ini adalah, rhinitis, sinusitis, faringitis,
tosilitis dan laryngitis.
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat
ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan virus, serologis, diagnostik virus
secara langsung. Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan
pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.
v
Pengobatan
Pengobatan
yg diberikan pada penyakit ini biasanya
pemberian antibiotik walaupun kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus yang dapat
sembuh dengan sendirinya tanpa pemberian obat-obatan terapeutik, pemberian
antibiotik dapat mempercepat penyembuhan penyakit ini dibandingkan hanya
pemberian obat obatan symptomatic, selain itu dengan pemberian antibiotik dapat
mencegah terjadinya infeksi lanjutan dari bakterial, pemberian, pemilihan
antibiotik pada penyakit ini harus diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi
resistensi kuman/bacterial di kemudian hari. Namun pada penyakit ISPA yg sudah
berlanjut dengan gejala dahak dan ingus yg sudah menjadi hijau, pemberian
antibiotik merupakan keharusan karena dengan gejala tersebut membuktikan sudah
ada bakteri yg terlibat.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Respirasi adalah suatu proses mulai dari
pengambilan oksigen (Inspirasi) dan pengeluaran karbondioksida (Ekspirasi)
hingga pengunaan energi di dalam tubuh. Adapun penyakit – penyakit yang terjadi
pada sistem respirasi yaitu: bronchitis, bronchiolitis, tonsilitis, faringitis,
asma, ISPA.
Kebanyakan penyebab dari
penyakit-penyakit tersebut yaitu infeksi virus. Walaupun demikian bakteri juga
dapat menyebabkan terjadinya penyakit sistem respirasi.
3.2
Saran
Sangat
penting untuk menjaga organ pernafasan kita. Agar terhindar dari penyakit –
penyakit gangguan pernafasan, kita harus menghindari polusi udara, gas - gas
beracun dan terutama hindari merokok.
DAFTAR PUSTAKA
Betz,
Cecily Lynn, Sowden, Linda A. 2009. Buku
Saku Keperawatan Pediatri ed 5. Jakarta: EGC.
Djojodibroto,
Darmanto. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Jakarta: EGC.
Jan,
Tamboyang. 2000. Patofisiologi untuk
Keperawatan. Jakarta: EGC.
Thuma
P, Robert A. 2001. Pharyngitis and Tonsillitis.
St. Louis: Mosby.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar