Rabu, 25 September 2013

makalah kelompok 2


MAKALAH
SISTEM RESPIRASI I
 “Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernafasan”




akper3
 













PRODI S1 – II B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2013-2014




SISTEM RESPIRASI I
 “Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernafasan”


Nama Kelompok 2 :
1.     Alifia Budi Rosalina                         121.0008
2.     Inayah Khoirunnisa                          121.0046
3.     Ismi Kharismamurti                          121.0050
4.     M. Nashrul Sobiry                            121.0066
5.     Nurul Maulidia                                 121.0076
6.     Yurita Ajeng Larasati                       121.0112


PRODI S1 – II B

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2013-2014



KATA PENGANTAR

Rasa syukur  kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul " Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernapasan "
Dalam penulisan  makalah ini kami berusaha menyajikan bahan dan bahasa yang sederhana , singkat serta mudah mudah di cerna oleh pembaca. Selain itu, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hidayatus selaku dosen dan teman-teman yang juga memberi semangat untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi para pembaca. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan agar makalah-makalah selanjutnya menjadi karya yang lebih baik lagi. Terima kasih, dan selamat membaca.




Surabaya, 19 September 2013




Penyusun




DAFTAR ISI


                                                                                                                    Halaman
Kata Pengantar.............................................................................................................     i
Daftar Isi …………………………………………………………………………….      ii
Bab 1 Pendahuluan
1.1  Latar Belakang..............................................................................................     1
1.2  Rumusan Masalah.........................................................................................     1
1.3  Tujuan...........................................................................................................     1
1.4  Manfaat.........................................................................................................     1
1.5  Sistematika Penulisan...................................................................................     2
Bab 2 Tinjauan Pustaka...............................................................................................     3
Bab 3 Pembahasan
          3.1 Peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2 dan CO2.................    4   
          3.2 Transport O2 dalam darah…………………………………….......................   6
          3.3 Transport CO2 dalam darah ………………………………...........................    7
          3.4 Pengaturan respiratorik dalam keseimbangan asam basa …………………..    8
Bab 4 Penutup
          4.1 Kesimpulan......................................................................................................    12
          4.2 Saran................................................................................................................    12
Daftar Pustaka..............................................................................................................    13








BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang sakit kita harus terlebih dahulu mengetahui struktur dan fungsi tiap alat dari susunan tubuh manusia yang sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia merupakan dasar yang penting dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dengan mengetahui struktur dan fungsi tubuh manusia, seorang perawat professional dapat makin jelas menafsirkan perubahan yang terdapat pada alat tubuh tersebut.

1.2            Rumusan Masalah

1.      Bagaimana peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2 dan CO2 ?
2.      Bagaimana proses transport O2 dalam darah ?
3.      Bagaimana proses transport CO2 dalam darah ?
4.      Bagaimana pengaturan respiratorik dalam keseimbangan asam basa ?

1.3            Tujuan

1.   Untuk mengetahui peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2 dan CO2 dalam pernapasan.
2.          Untuk mengetahui proses transport O2 dalam darah.
3.          Untuk mengetahui proses transport CO2 dalam darah.
4.          Untuk mengetahui pengaturan respiratorik dalam keseimbangan asam basa




1.4            Manfaat

1.      Agar mahasiswa dapat mengetahui peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2 dan CO2  dalam pernapasan.
2.      Agar mahasiswa memahami proses transport O2 dalam darah manusia.
3.      Agar mahasiswa dapat memahami proses transport CO2 dalam darah manusia
4.      Agar mahasiswa dapat memahami proses pengaruran respiratorik dalam keseimbangan asam basa.


1.5            Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri atas empat bab. Bab 1 merupakan pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan. Bab 2 merupakan tinjauan pustaka yang akan membahas tentang . Bab 3 merupakan pembahasan yang akan menjawab rumusan masalah. Bab 4 merupakan simpulan dan saran dari seluruh makalah ini.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Biokimia berasal dari kata bio artinya organisme hidup, sedangkan kimia adalah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dari bahan-bahan kimia. Ilmu Kimia juga menitikberatkan terhadap komposisi bahan dan sifat-sifat yang berhubungan dengan komposisi. Juga mengkonsentrasikan perbedaan interaksi senyawa satu dengan senyawa lainnya dalam reaksi kimia untuk membentuk zat-zat baru (Brady dan Humiston, 1986). Dengan demikian dapat digabungkan dua pengertian diatas bahwa Biokimia meliputi studi tentang susunan kimia sel, sifat senyawa serta reaksi yang terjadi di dalam sel, senyawa-senyawa yang menunjang aktivitas organisme hidup serta energi yang diperlukan atau dihasilkan (Poedjiadi, 1994).

Ilmu Biokimia bertujuan mempelajari sifat zat kimia yang terdapat di dalam jasad hidup dan senyawa yang diproduksinya, mempelajari fungsi dan transformasi zat kimia serta menelaah transformasi tersebut sehubungan dengan aktivitas kehidupan (Girindra, 1993).

Pernapasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung (oksigen) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.Pengisapan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. Jadi dalam paru-paru terjadi pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah secara osmosis.










BAB III
PEMBAHASAN

   3.1 PERISTIWA KIMIA DAN FAAL YANG MEMPENGARUHI DIFUSI O2 DAN CO2

Faal
Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bias menimbulkan kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan anoksia cerebralis, misalnya orang bekerja pada ruangan yang sempit, tertutup, ruang kapal, ketel uap, dll. Bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan misalnya yang terjdi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki (disebut sianosis).

Peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi Oksigen
Pada umumnya 97% O2 ditransport dari paru-paru ke jaringan, diangkut dalam kombinasi kimia dengan hemoglobin di dalam sel darah merah. Sisanya 3% diangkut dalam keadaan terlarut di dalam air dari plasma dan sel. Jadi dalam keadaan ormal transport oksigen dalam keadaan terlarut dapat diabaikan. Tetapi bila seseorang menghrup oksigen dengan tekannan sangat tinggi, banyak oksigen ditranport dalam keadaan terlarut yang bergabung secara kimia dengan hemoglobin.
Sifat kima hemoglobin bergabung secara longgar dan reversible dengan bagian heme dari hemoglobin. Blla PO2 tinggi, seperti dalam kapiler paru-paru, oksigen berikatan dengan hemoglobin. Tetapi bila PO2 rendah, seperti dalam kapiler jaringan, oksigen dilepas dari hemoglobin. Ini adalah dasar transport oksigen dari paru-paru ke jaringan. Darah meninggalkan paru-paru biasanya mempunyai PO2 kira-kira 100mmHg, kejenuhan hemoglobin kira-kira 70%. Jumlah maksimum oksigen yang dapat bergabung dengan hemoglobin darah kira-kira 15gr hemoglobin dalam setiap 100ml darah.
Jumlah oksigen yang dilepar dari hemoglobin di dalam jaringan dengan kejenuhan normal 97% kira-kira 19.4ml, ketika mengalir melalui kapiler jaringan jumlah ini berkurang menjadi 14.4 ml.dalm keadaan normal kir-kira 5ml oksigen ditranport tip 100ml selama setiap siklus melalui jaringan. Koefisien dan efek gerak badan biasanya kira-kira 0.25 atau 25 darah. Selama gerak  badan berat sebnyak 75%-85% darah dapat memberikan oksigennya.

Peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi Karbon dioksida
Transport karbon dioksida tidak merupakan masalah sedemikian besar seperti transport oksigen karena dalam keadaan abnormal pun karbon dioksida biasanya dapat ditransport oleh darah dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada oksigen. Tetapi jumlah karbon dioksida dalam darah berhubungan erat dengan keseimbangan asam basah cairan tubuh. Dalam keadaan istirahat rata-rata 4ml karbon dioksida di transport dari jaringan ke paru-paru dalam setiap 1200 ml darah.
Untuk memulai proses transport, karbon dioksida berdifusi keluar jaringan ketika memasuki kapiler, segera terjadi reaksi kimia. Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel eritrosit tempat ia bereaksi dengan air membentuk asam karbonat. Di dala eritrosit enzim karbonat anhidrase akan mengklasifikasikan reaksi ini di antara karbon dioksida dan air, mempercepat kecepatan reaksi sekitar 5000 kali sehingga hamper selalu terjadi reaksi yang seketika. Seperempat karbon dioksida berikatan langsung dengan hemoglobin membentuk senyawa yang dinamakan karbomino hemoglobin (kombinasi kimia karbon dioksida dengan hemoglobin).



3.2 TRANSPORT O2 DALAM DARAH

Pengangkutan Oksigen ke jaringan
System pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-paru dan system kardiovaskuler. Oksigen masuk ke jaringan bergantung pada jumlah yang masuk ke dalam paru-paru, aliran darah ke usi masuk ke dalam jaringan dan kapasitas O2 oleh darah bergantung pada derjat konsentrasi dalam jaringan dan curah jantung. Jumlah O2 dalam darah ditentukan oleh jumlah O2 yang larut, hemoglobin, dan afinitas (daya tarik ) Hemoglobin.
Transport Oksigen melalui beberapa tahap :
Tahap 1. Oksigen atmosfer masuk ke dalam paru-paru. Pada waktu kita menarik nafas dengan tekanan parsial oksigen dalam atmosfer 159 mmHg. Dalam alveoli komposisi udara berbeda dengan komposisi udara atmosfer tekanan partial O2 dalam alveoli 105 mmHg.
Tahap 2. Darah mengalir dari jantung menuju paru-paru untuk mengambil oksigen yang berada dalam alveoli. Dalam darah ini terdapt oksigen dengan tekanan parsial 40 mmHg. Perbedaan tekanan parsial itu terjadi pada pembuluh kapiler yang berhubungan dengan membrane alveoli, maka oksigen yang berada dalam alveoli dapat berdifusi masuk ke dalam pembuluh kapiler. Setelah terjadi proses difusi tekanan parsial oksigen dalam pembuluh darah menjadi 100 mmHg.
Tahap 3. Oksigen yang telah berada dalam pembuluh darah diedarkan ke seluruh tubuh. Ada 2 mekanisme peredran oksigen dalam darah yaitu oksigen yang larut dalam plasma darah yang merupakan bagian terbesar dan sebagian kecil oksigen yang terikat pada hemoglobin dalam darah. Derajat kejenuan hemoglobin dengan o2 bergantung pada tekanann parsial Co2 atau pH. Jumlah O2 yang diangkut ke jaringan bergantung pada jumlah hemoglobin dalam darah.
Tahap 4. Sebelum sampai pada sel yang membutuhkan, oksigen di bawa melalui cairan interstisial lebih dahulu. Tekaan parsial oksigen dalam cairan interstisial 20 mmHg. Perbedaan tekanan parsial oksigen dalam pembuluh darah arteri (100 mmHg) dengan tekanan parsil oksigen dalam cairan intertisial (20mmHg), menyebabkan terjadinya difusi oksigen yang cepat dari pembuluh kapiler kedalam ciran interstisial.
Tahap 5. Tekanan parsial oksigen dalam sel kira kira antara 0-20 mmHg .oksigen dari cairan interstisial berdifusi masuk ke dalam sel. Dalam sel oksigen ini digunakan untuk reaksi metabolisme yaitu reaksi oksidaasi senyawa yang berasal dari makanan (Karbohidrat,Lemak,  dan protein) menghasilkan H2O, CO2, dan energy.




3.3 TRANSPORT CO2 DALAM DARAH

Transport karbon dioksida
Kelarutan CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2 sehingga terdapat lebih banyak CO2 daripada O2 dalam  larutan sederhana. CO2 berdifusi dalam sel darah merah dengan cepat mengalami hidrasi menjadi H2CO3 karena adanya anhidrase (berkurangnya sekresi keringat) karbonat berdifusi ke dalam plasma.
Penuruna kejenuhan hemoglobin terhadap O2 bila darah melalui kapiler-kapiler jaringan. Sebagian dari CO2 dalam sel darah merah bereaksi dengan gugus amino dari protein, hemoglobin membentuk senyawa karbamino (senyawa karbon dioksida).
Besarnya kenaikan kapasitas darah mengangkut CO2 ditunjukkan oleh selisih antara garis kelarutan CO2 dan garis kadar total CO2 diantara 49ml CO2 dalam darah arterial 2,6ml adalah senyawa karbamino dan 43,8ml dalam HCO2.

          3.4 PENGATURAN RESPIRATORIK DALAM KESEIMBANGAN ASAM BASA

Derajat keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan lainnya.
Satuan derajat keasaman adalah pH :
·         pH 7,0 adalah netral
·         pH di atas 7,0 adalah basah (alkali)
·         pH di bawah 7,0 adalah asam

         Suatu asam kuat memiliki pH yang sangat rendah (hampir 1,0), sedangkan suatu basa kuat memiliki pH yang sangat tinggi (di atas 14,0). Drah memiliki pH antara 7,35-7,45.keseimbangan asam basa darah dikendalikan secara seksama, karena perubahan pH yang sangat kecil pun dapat memberikan efek yang serius terhadap beberapa organ


               Tubuh menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam basa darah :
1.      Kelebihan asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian bbesar dalam bentuk ammonia. Ginjal memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang di buang, yang biasannya berlangsung selama beberapa hari.
2.                    Tubuh menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalm pH darah. Suatu penyangga pH bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan. Penyangga pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat (suatu komponen basah) berada dalam keseimbangan dengan karbondioksida (suatu komponen asam)

·         Jika lebih banyak asam yang masuk ke dalam aliran darah,maka akan di hasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih sedikit karbondioksida.
·         Jika lebih banyak basah yang masuk ke dalam aliran darah, maka akan di hasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih sedikit bikarbonat.

3.             Pembuangan karbondioksida
Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru, karbondioksida tersebut dikeluarkan (dihembuskan) pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang di hembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan.
·          
        Jika pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah menurun dan darah menjadi lebih basa.
·         Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi lebih asam.
     
             Dengan mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit
       Adanya kelainan pada satu atau lebih pengendalian pH tersebut, bias menyebabkan salah satu dari dua kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis dan alkalosis.
v  Asidosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
v  Alkalosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandun basa (atau terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.
Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya masalah metabolisme yang serius.
Asidosis dan alkalosis dikelompokan menjadi metabolik dan respiratorik, tergantung pada penyebab utamanya.
v  Asidosis metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidak seimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal.
v  Asidosis respiratorik dan alkalosis respiratorik di sebabkan oleh penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan.


a.      Asidosis respiratorik
Definisi :
Adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpun karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat.
Kecepatan dalam pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam. Tingginya karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehinnga pernafasan lebih cepat dan lebih dalam. Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat, selain itu dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dan saraf atau otot dada menyebabkan gangguam terhadap mekanisme pernafasan.
b.      Asidosis metabolic
Definisi :
Adalah keasam darah yang berlebihan yang ditandai dengan rendahnya karbondioksida dalam darah.
Bila peningkatan keasaman melampaui system penyangga pH darah akan menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan terjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan menurunkan jumlah karbondioksida.


c.       Alkalosis respiratorik
Definisi :
Adalah keadaan dimana darah menjadi bassah karena pernafasan yang cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar dioksida dalam darah menjadi rendah. Hiperfentilasi dapat menyebabkan peningkatan jumlah karbondioksida yang dikeluar dari aliran darah.

d.      Alkalois metabolic
Definisi :
Adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkalosis metabolic terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam. Misalnya, kehilangan asam lambung selama periode munta yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama pada saat pembedahan perut). Selain itu juga dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah banyak akan mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.





BAB IV
PENUTUP

4.1            KESIMPULAN
v  Pernafasan  merupakan pengambilan oksigen yang kemudian dibawah oleh darah keseluruh tubuh (sel-sel) untuk pembakaran dengan mengeluarkan karbondioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran. System pernafasan pada manusia terbagi dari beberapa proses yaitu difusi , transport O2 dan CO2 dalam darah dengan pengaturan keseimbangan asam basa.
v  Pusat pernafasan di otak mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman pernafasan. Jika pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah menurun. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat.

4.2            SARAN
Demikian makalah yang telah kami susun semoga dengan makalah ini dapat menambah penegtahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok bahasan masalah yang kami lampirkan bagi para pembaca dan khususnya bagi mahasiswa yang telah menyusun makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.








DAFTAR PUSTAKA

Syaifuddin, Drs. H.(2006). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar