MAKALAH
SISTEM
RESPIRASI I
“Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernafasan”
![]() |
PRODI
S1 – II B
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
HANG TUAH SURABAYA
SISTEM
RESPIRASI I
“Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernafasan”
Nama
Kelompok 2 :
1. Alifia
Budi Rosalina 121.0008
2. Inayah
Khoirunnisa 121.0046
3. Ismi
Kharismamurti 121.0050
4. M.
Nashrul Sobiry 121.0066
5. Nurul
Maulidia 121.0076
6. Yurita
Ajeng Larasati 121.0112
PRODI
S1 – II B
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2013-2014
KATA
PENGANTAR
Rasa syukur
kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala rahmat dan
hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul "
Biokimia : Oksidasi dan Kimia Pernapasan "
Dalam penulisan makalah ini kami berusaha menyajikan bahan
dan bahasa yang sederhana , singkat serta mudah mudah di cerna oleh pembaca. Selain itu, kami juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hidayatus selaku dosen dan teman-teman yang
juga memberi semangat untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami berharap makalah ini dapat menjadi
sumber informasi dan inspirasi bagi para pembaca. Kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan agar makalah-makalah selanjutnya menjadi karya yang
lebih baik lagi. Terima kasih, dan selamat membaca.
Surabaya, 19 September 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
Halaman
Kata
Pengantar............................................................................................................. i
Daftar Isi
……………………………………………………………………………. ii
Bab
1 Pendahuluan
1.1 Latar
Belakang.............................................................................................. 1
1.2 Rumusan
Masalah......................................................................................... 1
1.3 Tujuan........................................................................................................... 1
1.4 Manfaat......................................................................................................... 1
1.5 Sistematika
Penulisan................................................................................... 2
Bab
2 Tinjauan Pustaka............................................................................................... 3
Bab
3 Pembahasan
3.1 Peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2
dan CO2................. 4
3.2
Transport O2 dalam darah……………………………………....................... 6
3.3
Transport CO2 dalam darah ………………………………........................... 7
3.4
Pengaturan respiratorik dalam keseimbangan asam basa ………………….. 8
Bab
4 Penutup
4.1 Kesimpulan...................................................................................................... 12
4.2 Saran................................................................................................................ 12
Daftar
Pustaka.............................................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Untuk
mengetahui perubahan yang terjadi pada tubuh orang sakit kita harus terlebih
dahulu mengetahui struktur dan fungsi tiap alat dari susunan tubuh manusia yang
sehat dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi
tubuh manusia merupakan dasar yang penting dalam melaksanakan asuhan
keperawatan. Dengan mengetahui struktur dan fungsi tubuh manusia, seorang
perawat professional dapat makin jelas menafsirkan perubahan yang terdapat pada
alat tubuh tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana peristiwa kimia dan faal yang
mempengaruhi difusi O2 dan CO2 ?
2.
Bagaimana proses transport O2 dalam
darah ?
3.
Bagaimana proses transport CO2 dalam
darah ?
4.
Bagaimana pengaturan respiratorik dalam
keseimbangan asam basa ?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2 dan CO2 dalam
pernapasan.
2. Untuk
mengetahui proses transport O2 dalam darah.
3. Untuk
mengetahui proses transport CO2 dalam darah.
4. Untuk
mengetahui pengaturan respiratorik dalam keseimbangan asam basa
1.4
Manfaat
1. Agar
mahasiswa dapat mengetahui peristiwa kimia dan faal yang mempengaruhi difusi O2
dan CO2 dalam pernapasan.
2. Agar
mahasiswa memahami proses transport O2 dalam darah manusia.
3. Agar
mahasiswa dapat memahami proses transport CO2 dalam darah manusia
4. Agar
mahasiswa dapat memahami proses pengaruran respiratorik dalam keseimbangan asam
basa.
1.5
Sistematika Penulisan
Makalah ini
terdiri atas empat bab. Bab 1 merupakan pendahuluan yang terdiri atas latar
belakang, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan. Bab 2
merupakan tinjauan pustaka yang akan membahas tentang . Bab 3 merupakan
pembahasan yang akan menjawab rumusan masalah. Bab 4 merupakan simpulan dan
saran dari seluruh makalah ini.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Biokimia berasal
dari kata bio artinya organisme hidup, sedangkan kimia adalah satu cabang ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku dari bahan-bahan kimia. Ilmu
Kimia juga menitikberatkan terhadap komposisi bahan dan sifat-sifat yang
berhubungan dengan komposisi. Juga mengkonsentrasikan perbedaan interaksi
senyawa satu dengan senyawa lainnya dalam reaksi kimia untuk membentuk zat-zat
baru (Brady dan Humiston, 1986). Dengan demikian dapat digabungkan dua
pengertian diatas bahwa Biokimia meliputi studi tentang susunan kimia sel,
sifat senyawa serta reaksi yang terjadi di dalam sel, senyawa-senyawa yang
menunjang aktivitas organisme hidup serta energi yang diperlukan atau
dihasilkan (Poedjiadi, 1994).
Ilmu
Biokimia bertujuan mempelajari sifat zat kimia yang terdapat di dalam jasad
hidup dan senyawa yang diproduksinya, mempelajari fungsi dan transformasi zat
kimia serta menelaah transformasi tersebut sehubungan dengan aktivitas
kehidupan (Girindra, 1993).
Pernapasan
(respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung
(oksigen) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida
sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh.Pengisapan udara ini disebut
inspirasi dan menghembuskan disebut ekspirasi. Jadi dalam paru-paru terjadi
pertukaran zat antara oksigen yang ditarik dari udara masuk ke dalam darah dan
CO2 dikeluarkan dari darah secara osmosis.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 PERISTIWA KIMIA DAN FAAL YANG MEMPENGARUHI DIFUSI O2 DAN CO2
Faal
Oksigen
dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat membutuhkan oksigen
dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit akan
mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bias
menimbulkan kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau
pikiran dan anoksia cerebralis, misalnya orang bekerja pada ruangan yang
sempit, tertutup, ruang kapal, ketel uap, dll. Bila oksigen tidak mencukupi
maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan misalnya yang terjdi
pada bibir, telinga, lengan, dan kaki (disebut sianosis).
Peristiwa kimia dan faal yang
mempengaruhi difusi Oksigen
Pada
umumnya 97% O2 ditransport dari paru-paru ke jaringan, diangkut dalam kombinasi
kimia dengan hemoglobin di dalam sel darah merah. Sisanya 3% diangkut dalam
keadaan terlarut di dalam air dari plasma dan sel. Jadi dalam keadaan ormal
transport oksigen dalam keadaan terlarut dapat diabaikan. Tetapi bila seseorang
menghrup oksigen dengan tekannan sangat tinggi, banyak oksigen ditranport dalam
keadaan terlarut yang bergabung secara kimia dengan hemoglobin.
Sifat
kima hemoglobin bergabung secara longgar dan reversible dengan bagian heme dari
hemoglobin. Blla PO2 tinggi, seperti dalam kapiler paru-paru, oksigen berikatan
dengan hemoglobin. Tetapi bila PO2 rendah, seperti dalam kapiler jaringan,
oksigen dilepas dari hemoglobin. Ini adalah dasar transport oksigen dari
paru-paru ke jaringan. Darah meninggalkan paru-paru biasanya mempunyai PO2
kira-kira 100mmHg, kejenuhan hemoglobin kira-kira 70%. Jumlah maksimum oksigen
yang dapat bergabung dengan hemoglobin darah kira-kira 15gr hemoglobin dalam
setiap 100ml darah.
Jumlah
oksigen yang dilepar dari hemoglobin di dalam jaringan dengan kejenuhan normal
97% kira-kira 19.4ml, ketika mengalir melalui kapiler jaringan jumlah ini
berkurang menjadi 14.4 ml.dalm keadaan normal kir-kira 5ml oksigen ditranport
tip 100ml selama setiap siklus melalui jaringan. Koefisien dan efek gerak badan
biasanya kira-kira 0.25 atau 25 darah. Selama gerak badan berat sebnyak 75%-85% darah dapat
memberikan oksigennya.
Peristiwa kimia dan faal yang
mempengaruhi difusi Karbon dioksida
Transport
karbon dioksida tidak merupakan masalah sedemikian besar seperti transport
oksigen karena dalam keadaan abnormal pun karbon dioksida biasanya dapat
ditransport oleh darah dalam jumlah yang jauh lebih besar dari pada oksigen.
Tetapi jumlah karbon dioksida dalam darah berhubungan erat dengan keseimbangan
asam basah cairan tubuh. Dalam keadaan istirahat rata-rata 4ml karbon dioksida
di transport dari jaringan ke paru-paru dalam setiap 1200 ml darah.
Untuk
memulai proses transport, karbon dioksida berdifusi keluar jaringan ketika
memasuki kapiler, segera terjadi reaksi kimia. Karbon dioksida berdifusi ke
dalam sel-sel eritrosit tempat ia bereaksi dengan air membentuk asam karbonat.
Di dala eritrosit enzim karbonat anhidrase akan mengklasifikasikan reaksi ini
di antara karbon dioksida dan air, mempercepat kecepatan reaksi sekitar 5000
kali sehingga hamper selalu terjadi reaksi yang seketika. Seperempat karbon
dioksida berikatan langsung dengan hemoglobin membentuk senyawa yang dinamakan
karbomino hemoglobin (kombinasi kimia karbon dioksida dengan hemoglobin).
3.2
TRANSPORT O2 DALAM DARAH
Pengangkutan Oksigen ke jaringan
System
pengangkutan O2 dalam tubuh terdiri dari paru-paru dan system kardiovaskuler.
Oksigen masuk ke jaringan bergantung pada jumlah yang masuk ke dalam paru-paru,
aliran darah ke usi masuk ke dalam jaringan dan kapasitas O2 oleh darah
bergantung pada derjat konsentrasi dalam jaringan dan curah jantung. Jumlah O2
dalam darah ditentukan oleh jumlah O2 yang larut, hemoglobin, dan afinitas
(daya tarik ) Hemoglobin.
Transport
Oksigen melalui beberapa tahap :
Tahap
1. Oksigen atmosfer masuk ke dalam paru-paru. Pada waktu kita menarik nafas
dengan tekanan parsial oksigen dalam atmosfer 159 mmHg. Dalam alveoli komposisi
udara berbeda dengan komposisi udara atmosfer tekanan partial O2 dalam alveoli
105 mmHg.
Tahap
2. Darah mengalir dari jantung menuju paru-paru untuk mengambil oksigen yang
berada dalam alveoli. Dalam darah ini terdapt oksigen dengan tekanan parsial 40
mmHg. Perbedaan tekanan parsial itu terjadi pada pembuluh kapiler yang
berhubungan dengan membrane alveoli, maka oksigen yang berada dalam alveoli
dapat berdifusi masuk ke dalam pembuluh kapiler. Setelah terjadi proses difusi
tekanan parsial oksigen dalam pembuluh darah menjadi 100 mmHg.
Tahap
3. Oksigen yang telah berada dalam pembuluh darah diedarkan ke seluruh tubuh.
Ada 2 mekanisme peredran oksigen dalam darah yaitu oksigen yang larut dalam
plasma darah yang merupakan bagian terbesar dan sebagian kecil oksigen yang
terikat pada hemoglobin dalam darah. Derajat kejenuan hemoglobin dengan o2
bergantung pada tekanann parsial Co2 atau pH. Jumlah O2 yang diangkut ke
jaringan bergantung pada jumlah hemoglobin dalam darah.
Tahap
4. Sebelum sampai pada sel yang membutuhkan, oksigen di bawa melalui cairan
interstisial lebih dahulu. Tekaan parsial oksigen dalam cairan interstisial 20
mmHg. Perbedaan tekanan parsial oksigen dalam pembuluh darah arteri (100 mmHg)
dengan tekanan parsil oksigen dalam cairan intertisial (20mmHg), menyebabkan
terjadinya difusi oksigen yang cepat dari pembuluh kapiler kedalam ciran
interstisial.
Tahap 5. Tekanan parsial oksigen dalam
sel kira kira antara 0-20 mmHg .oksigen dari cairan interstisial berdifusi
masuk ke dalam sel. Dalam sel oksigen ini digunakan untuk reaksi metabolisme
yaitu reaksi oksidaasi senyawa yang berasal dari makanan
(Karbohidrat,Lemak, dan protein)
menghasilkan H2O, CO2, dan energy.
3.3
TRANSPORT CO2 DALAM DARAH
Transport karbon dioksida
Kelarutan
CO2 dalam darah kira-kira 20 kali kelarutan O2 sehingga terdapat lebih banyak
CO2 daripada O2 dalam larutan sederhana.
CO2 berdifusi dalam sel darah merah dengan cepat mengalami hidrasi menjadi
H2CO3 karena adanya anhidrase (berkurangnya sekresi keringat) karbonat
berdifusi ke dalam plasma.
Penuruna
kejenuhan hemoglobin terhadap O2 bila darah melalui kapiler-kapiler jaringan.
Sebagian dari CO2 dalam sel darah merah bereaksi dengan gugus amino dari
protein, hemoglobin membentuk senyawa karbamino (senyawa karbon dioksida).
Besarnya kenaikan
kapasitas darah mengangkut CO2 ditunjukkan oleh selisih antara garis kelarutan
CO2 dan garis kadar total CO2 diantara 49ml CO2 dalam darah arterial 2,6ml
adalah senyawa karbamino dan 43,8ml dalam HCO2.
3.4 PENGATURAN RESPIRATORIK DALAM KESEIMBANGAN
ASAM BASA
Derajat
keasaman merupakan suatu sifat kimia yang penting dari darah dan cairan
lainnya.
Satuan derajat keasaman adalah pH :
·
pH 7,0 adalah netral
·
pH di atas 7,0 adalah basah (alkali)
·
pH di bawah 7,0 adalah asam
Suatu
asam kuat memiliki pH yang sangat rendah (hampir 1,0), sedangkan suatu basa
kuat memiliki pH yang sangat tinggi (di atas 14,0). Drah memiliki pH antara
7,35-7,45.keseimbangan asam basa darah dikendalikan secara seksama, karena
perubahan pH yang sangat kecil pun dapat memberikan efek yang serius terhadap
beberapa organ
Tubuh
menggunakan 3 mekanisme untuk mengendalikan keseimbangan asam basa darah :
1. Kelebihan
asam akan dibuang oleh ginjal, sebagian bbesar dalam bentuk ammonia. Ginjal
memiliki kemampuan untuk mengatur jumlah asam atau basa yang di buang, yang biasannya
berlangsung selama beberapa hari.
2. Tubuh
menggunakan penyangga pH (buffer) dalam darah sebagai pelindung terhadap
perubahan yang terjadi secara tiba-tiba dalm pH darah. Suatu penyangga pH
bekerja secara kimiawi untuk meminimalkan perubahan pH suatu larutan. Penyangga
pH yang paling penting dalam darah adalah bikarbonat (suatu komponen basah)
berada dalam keseimbangan dengan karbondioksida (suatu komponen asam)
·
Jika lebih banyak asam yang masuk ke
dalam aliran darah,maka akan di hasilkan lebih banyak bikarbonat dan lebih
sedikit karbondioksida.
·
Jika lebih banyak basah yang masuk ke
dalam aliran darah, maka akan di hasilkan lebih banyak karbondioksida dan lebih
sedikit bikarbonat.
3. Pembuangan
karbondioksida
Karbondioksida adalah hasil tambahan penting dari
metabolisme oksigen dan terus menerus yang dihasilkan oleh sel. Darah membawa
karbondioksida ke paru-paru dan di paru-paru, karbondioksida tersebut
dikeluarkan (dihembuskan) pusat pernafasan di otak mengatur jumlah
karbondioksida yang di hembuskan dengan mengendalikan kecepatan dan kedalaman
pernafasan.
·
Jika
pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah menurun dan darah menjadi
lebih basa.
·
Jika
pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat dan darah menjadi
lebih asam.
Dengan
mengatur kecepatan dan kedalaman pernafasan, maka pusat pernafasan dan
paru-paru mampu mengatur pH darah menit demi menit
Adanya
kelainan pada satu atau lebih pengendalian pH tersebut, bias menyebabkan salah
satu dari dua kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis dan
alkalosis.
v Asidosis
adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau
terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
v Alkalosis
adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandun basa (atau
terlalu sedikit mengandung asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.
Asidosis
dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu
akibat dari sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk
penting dari adanya masalah metabolisme yang serius.
Asidosis
dan alkalosis dikelompokan menjadi metabolik dan respiratorik, tergantung pada
penyebab utamanya.
v Asidosis
metabolik dan alkalosis metabolik disebabkan oleh ketidak seimbangan dalam pembentukan
dan pembuangan asam atau basa oleh ginjal.
v Asidosis
respiratorik dan alkalosis respiratorik di sebabkan oleh penyakit paru-paru
atau kelainan pernafasan.
a.
Asidosis
respiratorik
Definisi
:
Adalah
keasaman darah yang berlebihan karena penumpun karbondioksida dalam darah
sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat.
Kecepatan
dalam pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan
normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi
asam. Tingginya karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur
pernafasan, sehinnga pernafasan lebih cepat dan lebih dalam. Asidosis
respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida
secara adekuat, selain itu dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dan saraf
atau otot dada menyebabkan gangguam terhadap mekanisme pernafasan.
b.
Asidosis
metabolic
Definisi
:
Adalah
keasam darah yang berlebihan yang ditandai dengan rendahnya karbondioksida
dalam darah.
Bila
peningkatan keasaman melampaui system penyangga pH darah akan menjadi asam.
Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan terjadi lebih dalam dan lebih
cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan
menurunkan jumlah karbondioksida.
c.
Alkalosis
respiratorik
Definisi
:
Adalah
keadaan dimana darah menjadi bassah karena pernafasan yang cepat dan dalam,
sehingga menyebabkan kadar dioksida dalam darah menjadi rendah. Hiperfentilasi
dapat menyebabkan peningkatan jumlah karbondioksida yang dikeluar dari aliran
darah.
d.
Alkalois
metabolic
Definisi
:
Adalah
suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar
bikarbonat. Alkalosis metabolic terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam.
Misalnya, kehilangan asam lambung selama periode munta yang berkepanjangan atau
bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang
dilakukan di rumah sakit, terutama pada saat pembedahan perut). Selain itu juga
dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah banyak akan
mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.
|
|
BAB IV
PENUTUP
4.1
KESIMPULAN
v Pernafasan merupakan pengambilan oksigen yang kemudian
dibawah oleh darah keseluruh tubuh (sel-sel) untuk pembakaran dengan
mengeluarkan karbondioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran. System
pernafasan pada manusia terbagi dari beberapa proses yaitu difusi , transport
O2 dan CO2 dalam darah dengan pengaturan keseimbangan asam basa.
v Pusat pernafasan di otak
mengatur jumlah karbondioksida yang dihembuskan dengan mengendalikan kecepatan
dan kedalaman pernafasan. Jika pernafasan meningkat, kadar karbondioksida darah
menurun. Jika pernafasan menurun, kadar karbondioksida darah meningkat.
4.2
SARAN
Demikian makalah yang telah kami susun semoga dengan makalah ini dapat
menambah penegtahuan serta lebih bisa memahami tentang pokok bahasan masalah
yang kami lampirkan bagi para pembaca dan khususnya bagi mahasiswa yang telah
menyusun makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.
DAFTAR PUSTAKA
Syaifuddin, Drs. H.(2006). Anatomi
Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC:
Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar