Kamis, 26 September 2013

makalah kelompok 4


MAKALAH KEPERAWATAN SISTEM RESPIRASI I
“Patofisiologi Sistem Respirasi II dan Kaitannya dengan Fisiologi Sistem Pernafasan”




                                                     nama kelompok 4 :

1.      Dias Aryati Kemuningtias                (121.0026)
2.      Inggar Septi Fajarini                        (121.0048)
3.      Khaider Ali B. R                               (121.0054)
4.      Mai Hidayatus Sholikah                   (121.0060)
5.      Nevyta Kusumawaty                         (121.0070)


Prodi S1 – Keperawatan
S1 – 2B




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA

2013/2014


KATA PENGANTAR

       Alhamdulillah, puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga makalah yang berjudul “Patofisiologi Sistem Respirasi II dan Kaitannya dengan Fisiologi Sistem Pernafasan” ini dapat selesai dengan baik, walaupun masih perlu beberapa masukan-masukan dalam rangka penyempurnaan makalah ini.
       Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi siapapun yang membacanya.








Surabaya, 23 September 2013
Tim Penulis




ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................  ii
Daftar Isi......................................................................................................   iii
Bab I Pendahuluan
1.1  Latar Belakang.......................................................................................   1
1.2  Rumusan Masalah..................................................................................   1
1.3  Tujuan Penulisan....................................................................................   2
1.4  Manfaat Penulisan..................................................................................  2
Bab II Landasan Teori
2.1 Pengertian..............................................................................................   3
2.2 Patofisiologi Sistem Pernapasan............................................................   3
Bab III Pembahasan
3.1 Sleep Apnea...........................................................................................   5
3.2 Napas Cuping Hidung...........................................................................   7
3.3 Batuk......................................................................................................  8
3.4 Proses Menelan dan Tersedak................................................................   10
3.5 Hiccup (Cegukan)...................................................................................  13
3.6 Retraksi...................................................................................................  14
3.7 Mekanisme Bersin...................................................................................  15
Bab IV Kesimpulan dan Saran
4.1 Kesimpulan.............................................................................................. 17
4.2 Saran........................................................................................................ 17
Daftar Pustaka............................................................................................... iv



iii



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengertian Respirasi atau pernapasan adalah periatiwa menghirup adara dari luar yang mengandung oksigen serta menghembuskan udara yang banyak mengandung  karbondioksida sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Patofisiologi berasal dari dua kata, yaitu patologi dan fisiologi. Patologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit. Sedangkan fisiologi adalah suatu zat hidup yang diketahui fungsinya. Jadi, pengertian dari patofisiologi adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana terjadiya suatu penyakit.
Fungsi utama respirasi adalah menyediakan oksigen untuk darah dan mengambil karbon dioksida dari dalam darah. Fungsi lainnya adalah mengatur keasaman cairan tubuh, membantu pengendalian suu tubuh, ekskresi air dan fonasi atau pembentukan suara.
Fungsi utama dari paru-paru adalah menghirup dan menyaring udara. Lapisan udara yang kita hirup terdiri dari nitrogen, oksigen, air, karbondioksida dan partikel-partikel lain yang mempunyai kadar berbeda-beda. Udara tersebut masuk melalui hidung, mulut, melewati pangkal larynk/kotak suara dan meneruskan perjalanannya ke bawah ke trachea/batang tenggorokan yang bercabang kedua bronki utama. Dari sini, udara disalurkan ke dalam bronkioli (bronki yang paling kecil) dan akhirnya ke dalam jutaan alveoli (kantong-kantong udara) yang berada di paru-paru.
Setiap paru-paru diliputi oleh pleura, yang melindungi paru-paru dan juga membantunya untuk mengembangkan dan berkontraksi dengan mudah dalam dada. Paru-paru yang normal mampu menghindari infeksi karena sistem respirasi dan hidung berfungsi menyaring udara secara efektif, dan karena trakea dan bronki menghasilkan lendir yang membantu menangkap dan mengangkut kontaminen-kontaminen. Namun demikian tidak menutup kemungkinan paru-paru mengalami berbagai jenis gangguan. Gangguan tersebut dapat berupa infeksi atau jenis lainnya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana patofisiologi dari sleep apnea?
2.      Bagaimana patofisiologi dari napas cuping hidung?
3.      Bagaimana patofisiologi dari batuk?
4.      Bagaimana patofisiologi dari proses menelan dan tersedak?
5.      Bagaimana patofisiologi dari hiccup (cegukan)?
6.      Bagaimana patofisiologi dari retraksi?
7.      Bagaimana patofisiologi dari mekanisme bersin?

1
1.3  Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui tentang pengertian dari patofisiologi sistem respirasi.
2.      Untuk mengetahui tentang macam-macam patofisiolgi sistem respirasi.
3.      Untuk mengetahui tentang patofisiologi sistem respirasi dari masing-masing gangguan saluran pernapasan.

1.4 Manfaat Penulisan
1.      Mahasiswa dapat mengerti tentang apa patofisiologi sistem respirasi.
2.      Mahasiswa mengerti apa saja contoh dari macam-macam patofisiologi sistem respirasi.
3.      Mahsiswa dapat mengerti tentang patofisiologi sistem respirasi dari masing-masing gangguan saluran pernapasan.




2
BAB II
LANDASAN TEORI


A.    Pengertian

Pernapasan atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen (O2) serta menghembuskan udara yang banyak mengandung karbon dioksida (CO2) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Pengisapan udara ini disebut inspirais dan menghembuskan disebut ekspirasi.
Patologi adalah ilmu atau bidang ilmu tentang penyakit (abnormal). Fisiologi adalah fungsi benda hidup, sifat   fisik dan kimia yang mempengaruhi perkembangan dan gerak atau kelangsungan hidup. Patofisiologi adalah membahas aspek dinamis dan proses penyakit.

  1. Patofisiologi sistem pernapasan

·         Fungsi respirasi

-          Mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran.
-          Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran.
-          Menghanagtakan dan melembabkan udara.

·         Konsep fisiologisnya

Proses pernapasan sangat penting untuk dapat mensuplai oksigen ke semua jaringan tubuh dan untuk mengeluarkan karbondioksida yang dihasilkan oleh darah melalui paru-paru (Brian, 2008). Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua belah paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan kantong udara terakhir dimana oksigen dan karbondioksida dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari 300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis. Ruang udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis (McArdle, et al. 1986). Alveoli paru-paru/ kantong udara merupakan kantong kecil dan tipis yang melekat erat dengan lapisan pembuluh darah halus (kapiler) yang mebawa darah yang bebas oksigen (deoxgenated) dari jantung. Molekul oksigen dapat disaring melalui dinding pembuluh darah tersebut untuk masuk ke aliran darah. Sama halnya dengan karbondioksida yang dilepaskan dari darah ke dalam kantong udara untuk dikeluarkan melalui pernapasan, menentukan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah dan jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari darah (Anonim, 20008a).
3
Oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sanagt membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kematian. Kalau penyediaan oksigen berkurang akan menimbulkan kacau pikiran dan anoksia serebralis, misalnya orang bekerja pada ruangan yang sempit, tertutup, ruang kapal, ketel uap, dan lain-lain. Bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan misalnya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan, dan kaki (disebut sianosis).

·         Ventilasi
Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara paru-paru dengan udara lingkungan luar.

  • Difusi
Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara alveolus dengan pembuluh darah  kapiler pulmonal.

  • Transportasi
Pertukaran oksigen dan karbondioksida oleh pembuluh kapiler oleh jaringan dan dari jaringan ke kapiler paru.




4
BAB III
PEMBAHASAN

           
Patofisiologi Sistem Respirasi dan Kaitannya dengan Fisiologi Sistem Fisiologi Pernapasan


A.    Sleep Apnea
Sleep Apnea adalah gangguan tidur yang terutama ditandai dengan mendengkur dan kantuk berlebih-lebih

Gejala-gejala yang ditemukan :              
  1. Sakit kepala di pagi hari
  2. Nocturia
  3. Tersedak ataupun rasa kehabisan nafas saat tidur
  4. Kualitas tidur yang kurang nyenyak, sleep state misperception, insomnia
  5. Mulut terasa kering saat terbangun
  6. Konsentrasi terganggu
  7. Daya ingat menurun
  8. Mudah marah, emosional
  9. Hipertensi
  10. Nyeri dada di waktu malam
  11. Depresi
  12. Kelebihan berat badan (obesitas)
  13. Masalah seksual - Impotensi
  14. Bentuk leher yang pendek namun besar
  15. Kelainan cranio-facial, retrognathia

5
Fisiologi gangguan napas saat tidur
Pada orang dewasa normal, selama tidur volume tidal menurun 15–25% dan lebih dangkal pada stage REM dibandingkan stage NREM. Frekuensi napas meningkat perlahan selama stage NREM dan tidak teratur selama stage REM. Pernapasan tidak teratur selama tidur REM disebabkan perubahan aktivitas kortikal saraf pusat yang berhubungan dengan gerakan bola mata yang cepat atau terdapat mimpi dan berlanjutnya stage NREM 1–2 ke stage tidur dalam 3–4 atau gelombang tidur lambat, ventilasi menjadi teratur dan dipengaruhi kontrol sistem regulasi metabolik. Sejumlah kecil apnea pada orang normal timbul kurang dari 20 detik dan frekuensinya kurang dari 5 kali dalam 1 jam tidur yang dapat menyebabkan sedikit penurunan saturasi O2 dan sering timbul pada stage REM dan NREM stadium 1–2 dan jarang pada stage NREM 3–4. Keadaan apnea ini meningkat sesuai dengan umur, jenis kelamin laki–laki, obesiti dan riwayat mendengkur.

Gangguan napas saat tidur

Gangguan napas saat tidur menggambarkan abnormalitas respirasi selama tidur dengan keluhan dengkuran ringan sampai OSA yang mengancam jiwa. Karakteristiknya adalah obstruksi saluran napas yang menyebabkan episode hipoksia arteri berulang dan arausal (terjaga) sebagai hasil peningkatan upaya respirasi salah satu contohnya Obstructive Sleep Apnea (OSA).



6
Patofisiologi Sleep Apnea
OSA disebabkan oleh menyempitnya saluran nafas atas secara periodik saat tidur. Penyempitan ini bisa disebabkan oleh kelainan struktur anatomis atau gangguan neuromuskular. Saat inspirasi tekanan intraluminal akan meninggi menciptakan sebuah ‘suction reflex’ yang direspons oleh otot-otot dilator saluran nafas yang akan mempertahankan terbukanya jalan nafas. Namun tonus otot-otot ini melemah saat tidur. Ini menyebabkan penyempitan saluran nafas dan meningkatnya tahanan terhadap aliran udara. Kelainan struktur anatomi yang menyempitkan saluran nafas atas akan memperberat penyempitan, sehingga terjadi penyumbatan saat tidur. Saat terjadi sumbatan (apnea), kemoreseptor akan membaca kadar CO2 yang terlalu tinggi hingga mengirimkan sinyal untuk membangunkan otak. Akibatnya otak akan terbangun sejenak (micro arousal) tanpa disadari penderita. Proses ini akan memotong-motong proses tidur. Tidur yang terpotong dan kondisi hipoxemia dianggap menurunkan kemampuan mental dan kognitif seseorang.


B.     Napas Cuping Hidung
Pernapasan cuping hidung lebih identik ke sesak napas atau dispnea. Dispnea atau yang biasa dikenal dengan sesak napas adalah perasaan sulit bernapas dan biasanya merupakan gejala utama dari penyakit kardiopulmonal. Orang yang mengalami sesak napas sering mengeluh napas nya terasa pendek dan dangkal. Gejala objektif sesak napas termasuk juga penggunaan otot otot pernpasan tambahan seperti sternocleidomastoidseus, scalenus, trapezius, dan pectoralis mayor, adanya pernapasan cuping hidung, tachypnea dan hiperventilasi.


Fisiologi Napas Cuping Hidung adalah untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai masalah pada saluran napasnya seperti halnya sesak napas atau dispnea.

7

Patofisiologi Napas Cuping Hidung
Dispnea atau sesak napas bisa terjadi dari berbagai mekanisme seperti jika ruang fisiologi meningkat maka akan dapat menyebab kan gangguan pada pertukaran gas antara O2 dan CO2 sehingga menyebabkan kebutuhan ventilasi makin meningkat sehingga terjadi sesak napas. Pada orang normal ruang mati ini hanya berjumlah sedikit dan tidak terlalu penting, namun pada orang dalam keadaan patologis pada saluran pernapasn maka ruang mati akan meningkat.
Begitu juga jika terjadi peningkatan tahanan jalan napas maka pertukaran gas juga akan terganggu dan juga dapat menebab kan dispnea.
            Dispnea juga dapat terjadi pada orang yang mengalami penurnan terhadap compliance paru, semakin rendah kemampuan terhadap compliance paru maka makinbesar gradien tekanan transmural yang harusdibentuk selama inspirasi untuk menghasilkan pengembangan paru yang normal. Penyebab menurunnya compliance paru bisa bermacam salah satu nya adalah digantinya jaringan paru dengan jaringan ikat fibrosa akibat inhalasi asbston atau iritan yang sama.



C.    Batuk
Batuk dalam bahasa latin disebut tussis adalah refleks yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan sering berulang-ulang yang bertujuan untuk membantu membersihkan saluran pernapasan dari lendir besar, iritasi, partikel asing dan mikroba. Batuk dapat terjadi secara sukarela maupun tanpa disengaja.
Batuk merupakan suatu tindakan refleks pada saluran pernafasan yang digunakan untuk membersihkan saluran udara atas. Batuk kronis berlangsung lebih dari 8 minggu yang umum di masyarakat. Penyebab termasuk merokok, paparan asap rokok, dan paparan polusi lingkungan, terutama partikulat.


8
Penyebab Batuk  :
Ø  Iritan :
  • Rokok
  • Asap
  • SO2
  • Gas di tempat kerja
Ø  Mekanik :
  • Retensi sekret bronkopulmoner
  • Benda asing dalam saluran nafas
  • Postnasal drip
  • Aspirasi
Ø  Penyakit paru obstruktif :
  • Bronkitis kronis
  • Asma
  • Emfisema
  • Fibrosis kistik
  • Bronkiektasis
Ø  Penyakit paru restriktif :
  • Pnemokoniosis
  • Penyakit kolagen
  • Penyakit granulomatosa
Ø  Infeksi :
  • Laringitis akut
  • Bronkitis akut
  • Pneumonia
  • Pleuritis
  • Perikarditis
Ø  Tumor :
  • Tumor laring
  • Tumor paru

Patofisiologi Batuk
Mekanisme
Rangsang
Reseptor  (serabut saraf non mielin halus di dalam laring, trakea, bronkus, bronkiolus)
serabut aferen pada cabang nervus vagus mengalirkan dari laring, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus
Pusat batuk (di medula oblongata, dekat dengan pusat pernafasan dan pusat muntah) oleh serabut eferen nervus vagus
Efektor




9
Tahapan :

1.      Fase iritasi      
Iritasi pada salah satu saraf sensori nervus vagus di laring,trakea, bronkus / serat afferen cabang faring dari nervus glossopharingeus dapat menimbulkan batuk. Membawa impuls ke medula oblongata
2.      Fase inspirasi
Terjadi kontraksi otot abduktor kartilago arytenoideus yang mengakibatkan glotis secara refleks terbuka lebar. Volume udara yang diinspirasi berkisar antara 200-3500 ml di atas kapasitas residu fungsional
3.      Fase kompres
Terjadi kontraksi otot adduktor kartilago arytenoideus yang mengakibatkan tertutupnya glotis selama 0,2 detik. Pada fase ini tekanan di paru dan abdomen akan meningkat 50-100 mmHg
Batuk dapat terjadi tanpa oenutupan glotis karena otot-otot ekspirasi mampu meningkatkan tekanan intratoraks walaupun glotis tetap terbuka
4.      Fase ekspirasi
Glotis terbuka secara tiba-tiba akibat kontraksi aktif otot ekspirasi sehingga terjadilah pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi disertai dengan pengeluaran benda-benda asing.



D.    Proses Menelan dan Tersedak
Menelan, dikenal secara ilmiah sebagai deglutisi, merupakan refleks dalam tubuh manusia yang membuat sesuatu melewati mulut melalui esofagus. Kalau proses ini gagal dan benda tersebut masuk trakea, seseorang akan tersedak



10
Fisiologi Proses Menelan dan Tersedak
Proses menelan merupakan proses yang kompleks. Seetiap unsur yang berperan dalam proses menelan harus bekerja secara integrasi dan berkesinambungan.
Keberhasilan mekanisme menelan ini tergantung dari beberapa faktor, yaitu :
1.      ukuran bolus makanan
2.      diameter lumen esofagus yang dilalui bolus
3.      kontraksi peristaltik esofagus
4.      fungsi sfingter esofagus bagian atas dan bagian bawah
5.      kerja otot-otot rongga mulut dan lidah.

Integrasi fungsional yang sempurna akan terjadi bila sistem neuro-muskular mulai dari susunan saraf pusat, batang otak, persarafan sensorik dinding faring dan uvula, persarafan intrinsik otot-otot esofagus bekerja dengan baik, sehingga aktivitas motorik berjalan lancar. Proses menelan dapat dibagi dalam 3 fase: fase oral, fase faringeal, dan fase esofageal.
Proses menelan dapat dibagi dalam 3 fase: fase oral, fase faringeal, dan fase esofageal.
1.      Fase oral
Fase oral terjadi secara sadar. Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan liur akan membentuk bolus makanan. Bolus ini bergerak dari rongga mulut melalui dorsum lidah, terletak di tengah lidah akibat kontraksi otot intrinsik lidah.
Kontraksi m.levator veli palatini mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole terangkat dan bagian atas faring akan terangkat pula. Bolus terdorong ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Bersamaan dengan ini terjadi penutupan nasofaring sebagai akibat kontraksi m.levator veli palatini. Selanjutnya terjadi kontraksi m.palatoglossus yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti oleh kontraksi m.palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.

2.      Fase faringeal
Fase faringeal terjadi secara refleks pada akhir fase oral, yaitu perpindahan bolus makanan dari faring ke esofagus. Fase ini merupakan respon refleks yang diinisiasi oleh stimulasi mekanoreseptor dengan aferen nervus glosofarigeal (IX) dan nervus vagus (X) ke medula dan pons (batang otak); di batang otak, terdapat kelompok neuron (pusat menelan) yang mengkoordinasikan urutan kejadian kompleks yang akhirnya menghantarkan bolus ke esofagus.







11
Fase ini dapat dibagi dalam 3 tahap :
a.       Tahap pertama dimulai segera setelah timbul refleks menelan berupa:
1)      Kontraksi pilar
2)      Elevasi palatum mole
3)      Kontraksi otot konstriktor faring superior yang menimbulkan penonjolan pada dinding faring atas.
Fungsi dari tahap pertama adalah untuk membantu bolus masuk ke faring dan mencegah masuknya bolus ke nasofaring atau kembali ke mulut.

b.      Fase kedua, terjadi proses fisiologis berupa:
1)      Kontraksi otot faring dengan peregangan ke atas
2)      Penarikan pangkal lidah ke arah depan untuk mempermudah pasasebolus
3)      Elevasi laring karena kontraksi otot hioid tepat di bawah penonjolan pangkal lidah.
4)      Adduksi pita suara asli dan palsu.
5)      Penutupan epiglotis ke arah pita suara.
Fungsi dari tahap kedua adalah menarik bolus ke arah faring sehinggadapat menyebar masuk ke valekula yang terletak di atas garis epiglotis sebelum didorong oleh gerakan peristaltik. Proteksi jalan nafas terutama terjadi pada 3 tempat yang berbeda:  1)      Pintu masuk laring (aryepiglottic folds)
2)      Pita suara palsu dan pita suara asli
3)      Penutupan epiglotis.
Bolus akan melewati san mengelilingi epiglotis, turun dan masuk ke sfingter krikofaring dilanjutkan dengan pergerakan os hioid dan elevasi laring ke arah atas dari lekukan tiroid.

c.       Fase ketiga, bolus akan terdorong melewati sfingter krikofaring dalam keadaan relaksasi dan masuk ke esofagus. Proses fisiologis yang terjadi berupa:
1)      Peristaltik faring
2)      Relaksasi sfingter krikofaring
Peristaltik faring terjadi oleh karena relaksasi otot dinding faring yang terletak di depan bolus, dilanjutkan dengan kontraksi otot di belakang bolus, yang akan mendorong bolus dengan gerakan seperti gelombang. Sfingter krikofaring selalu dalam keadaan kontraksi untuk mencegah masuknya udara ke dalam lambung.
Bila makanan telah melewati sfingter krikofaring, fase esofageal dimulai dan otot faring, velum, laring, dan hioid akan relaksasi, saluran nafas terbuka dan dilanjutkan dengan proses pernafasan.

3)      Fase esofageal
Fase esofageal adalah fase perpindahan bolus makanan dari esofagus ke lambung. Dalam keadaan istirahat introitus esofagus selalu tertutup. Dengan adanya rangsangan bolus makanan pada akhir fase faringeal, maka terjadi relaksasi m.krikofaring, sehingga introitus esofagus terbuka dan bolus makanan masuk ke dalam esofagus.
12
Setelah bolus makanan lewat, maka sfingter akan berkontraksi lebih kuat, melebihi tonus introitus esofagus pada waktu istirahat, sehingga makanan tidak akan kembali ke faring. Dengan demikian refluks dapat dihindari.
Gerak bolus makanan di esofagus bagian atas masih dipengaruhi oleh kontraksi m.konstriktor faring inferior pada akhir fase faringeal. Selanjutnya bolus makanan akan didorong ke distal oleh gerakan peristaltik esofagus. Dalam keadaan istrirahat sfingter esofagus bagian bawah selalu tertutup dengan tekanan rata-rata 8 mmHg lebih dari tekanan di dalam lambung, sehingga tidak akan terjadi regurgitasi isi lambung. Pada akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka sfingter ini akan menutup kembali.

Gangguan Tersedak
Di leher kita itu ada 2 saluran, bagian depan itu namanya trachea (tenggorokan) yang merupakan tempat lewatnya udara menuju paru-paru, dimana saluran ini itu dibentuk oleh tulang rawan. Di bagian belakang dari trachea (tenggorokkan) terdapat saluran untuk tempat lewatnya makanan disebut esophagus (kerongkongan) yang menuju lambung.
Pada trachea kerdapat epiglotis , fungsi epiglotis ini adalah untuk menutup trakhea pada saat kita menelan makanan, jadi makanan tidak dapat masuk ke dalam trachea. dan epiglotis ini terbuka saat kita bernafas atau berbicara.makannya kalau kita lagi makan ga boleh bicara, karena dapat menyebabkan makanan masuk ke trachea.
Pada saat makanan masuk ke trachea akan terjadi refleks untuk mengeluarkan makanan tersebut dari trachea dan agar tidak msuk ke paru-paru yaitu caranya dengan tersedak. jadi tersedak itu merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah makanan masuk ke paru.

Patofisologi Menelan dan Tersedak
Normalnya orang menelan makanan padat atau minum cairan dan menelan saliva atau mukus yang dihasilkan tubuh beratus-ratus kali setiap hari. Proses menelan ini mempunyai empat tahap: tahap pertama persiapan di mulut, di mana makanan atau zat padat digerakkan/dimanipulasi dan dikunyah dalam persiapan untuk ditelan. Selama tahap oral, lidah mendorong makanan atau zat padat ke bagian belakang mulut, dan mulailah respon menelan. Tahap pharyngeal mulai segera setelah makanan atau liquid melewati pharynx (saluran yang menghubungkan mulut dengan esofagus) kedalam esofagus atau saluran pencernaan. Tahap terakhir adalah tahap esophageal, makanan atau liquid melewati esophagus ke dalam lambung. Normalnya orang menelan makanan padat atau minum cairan dan menelan saliva atau mukus yang dihasilkan tubuh beratus-ratus kali setiap hari.
13
Proses menelan ini mempunyai empat tahap: tahap pertama persiapan di mulut, di mana makanan atau zat padat digerakkan/dimanipulasi dan dikunyah dalam persiapan untuk ditelan. Selama tahap oral, lidah mendorong makanan atau zat padat ke bagian belakang mulut, dan mulailah respon menelan. Tahap pharyngeal mulaisegera setelah makanan atau liquid melewati pharynx (saluran yangv menghubungkan mulut dengan esofagus) kedalam esofagus atau saluran pencernaan. Tahap terakhir adalah tahap esophageal, makanan atau liquidmelewati esophagus ke dalam lambung.



E.     Hiccup atau Cegukan
Hiccups adalah suatu kontraksi involunter, intermiten , spasmodik dari diafragma dan otot interkostal yang menyebabkan inspirasi mendadak yang berakhir dengan penutupan mendadak glotis, membuat suara cegukan klasik. Frekuensinya adalah 4-60 cegukan / menit dengan interval teratur.
Cegukan didefinisikan sebagai persisten jika mereka bertahan lebih dari 48 jam dan dinyatakan parah jika mereka bertahan lebih dari 2 bulan. Pria di atas usia 50 lebih cenderung memiliki cegukan yang parah dibandingkan dengan perempuan.



Fisiologi Cegukan

Tidak diketahui apakah ada fungsi cegukan. Cegukan bahkan terjadi di rahim pada trimester ketiga. Cegukan ini melibatkan lengung refleks 1) saraf frenikus, saraf vagus, rantai simpatis 2) mediator pusat dan 3) nervus frenikus saraf, glotis, dan otot interkostal. Mediator sentral  melibatkan pusat-pusat pernapasan, nucleus nervi frenici, bagian reticular batang otak, dan hipotalamus. Biasanya, cegukan melibatkan satu sisi diafragma, meninggalkan lebih dari otot interkostal menyebabkan inspirasi mendadak yang berakhir dengan penutupan mendadak glotis, membuat suara cegukan klasik. normal
Tingkat adalah 4-60 cegukan / menit dengan interval teratur.


13
Cegukan didefinisikan sebagai persisten jika mereka bertahan lebih dari 48 jam dan keras jika mereka bertahan lebih dari 2
bulan. Pria di atas usia 50 lebih cenderung memiliki cegukan keras daripada perempuan.
Patoisiologi Cegukan
Istilah medis untuk cegukan adalah singultus (inggris: hiccup, hiccough), yaitu gangguan pada sistem pernafasan, dimana terjadinya kontraksi otot-otot pernapasan (diapraghm spasms) yang menyebabkan timbulnya gerakan menarik nafas tiba-tiba diikuti dengan menutupnya epiglottis (katup saluran pernafasan) secara tidak normal, sehingga menimbulkan efek suara yang khas.
Cegukan dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari balita hingga lanjut usia. Cegukan normal biasanya sering dialami oleh anak-anak.
Cegukan normal terjadi 4-60 kali/menit dengan interval yang teratur, dan berlangsung selama 10-30 menit. Namun apabila cegukan tidak berhenti dalam beberapa jam hingga berhari-hari, sangat disarankan untuk konsultasi dengan dokter, karena hal tersebut merupakan gejala penyakit yang serius.

F.     Retraksi

Retraksi adalah kontraksi yang berhubungan dengan otot dada dan otot perut kita. Bisa dikatakan merupakan kontraksi otot yang menyebabkan otot sekitar dada dan perut tertarik ke dalam pada saat kita menarik nafas. Salah satu gangguan pernapasan yang diakibatkan oleh retraksi adalah croup atau laringotrakeobronkitis. croup atau laringotrakeobronkitis adalah infeksi pernapasan yang disebabkan oleh infeksi virus pada saluran napas atas. Infeksi ini mengakibatkan pembengkakan di dalam kerongkongan. Pembengkakan mengganggu pernapasan normal; gejala croup yaitu batuk "menyalak", stridor (bunyi mengi kasar bernada tinggi), dan suara parau. Gejala croup dapat ringan, sedang, atau berat, dan sering memburuk di malam hari dan juga disebabkan oleh virus dan bakteri.

Patofisiologi Retraksi
Infeksi virus menyebabkan pembengkakan pada laring, trakea, dan saluran napas besar dengan sel darah putih. Pembengkakan dapat menyebabkan kesulitan bernapas.






14
G.    Mekanisme Bersin
Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri itu. Syaraf-syaraf yang terdapat di hidung dan mata itu sebenarnya saling bertautan, sehingga pada saat kita bersin, maka secara otomatis mata kita akan terpejam. Hal ini untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang keluar dari membran hidung.Pada saat kita bersin, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdenyut. Setelah selesai bersin maka jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali.

Penyebab Bersin :
-          Alergi makanan
-          Gatal
-          Udara dingin
-          Penyakit flu



Fisiologi Bersin
Sebenarnya bersin adalah sebuah pertanda bahwa kita ini sehat. Sehat dalam arti mekanisme tubuh kita berjalan dengan lancar sempurna. Bersin sebagai sebuah reaksi adanya ketidakberesan dalam saluran pernapasan. Mungkin ada debu atau kotoran dari udara yang kita hirup yang tidak tersaring dan ikut masuk sehingga tubuh secara spontan bereaksi mengeluarkan kotoran melalui bersin.

Di dalam hidung, udara yang masuk dihangatkan sampai mendekati suhu tubuh. Kemudian diberi kandungan air sampai mendekati kejenuhan dan dibersihkan lagi sehingga udara yang masuk ke paru-paru benar-benar bebas dari benda asing. Bila udara sangat beredebu, sangat dingin atau mengandung uap atau zat yang merangsang, ujung syaraf dihidung akan terangsang. Akibatnya refleks bersin segera terjadi untuk membersihkan hidung.


15
Patofisiologi Bersin
Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri itu. Syaraf-syaraf yang terdapat di hidung dan mata itu sebenarnya saling bertautan, sehingga pada saat kita bersin, maka secara otomatis mata kita akan terpejam. Hal ini untuk melindungi saluran air mata dan kapiler darah agar tidak terkontaminasi oleh bakteri yang keluar dari membran hidung.Pada saat kita bersin, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdenyut. Setelah selesai bersin maka jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali.
Bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri tersebut. Bersin juga dapat timbul akibat adanya peradangan (rhinosinusitis), benda asing, infeksi virus, atau reaksi alergi. Reaksi alergi tersebut muncul karena paparan terhadap bahan alergen.
Selain karena alergi, gejala pada hidung tersebut disebabkan bahan-bahan nonalergi yang ditimbulkan faktor lingkungan. Di antaranya, perubahan udara, temperatur, suhu, kelembapan, tekanan udara, atau bahan-bahan kimia dari obat-obat atau kosmetik tertentu. Mungkin juga akibat polusi udara karena asap kendaraan dan lingkungan industri. Kepantasan udara yang dilepaskan ketika bersin bisa mencapai 160 km/jam.Bersin sebetulnya berguna menjaga agar hidung tetap bersih (cleansing effect). Udara yang mengembus kuat dengan tekanan tinggi dari paru-paru mendorong keluar melalui hidung dan mulut. Refleks bersin itu bisa terjadi berulang-ulang, sehingga diharapkan pembersihan bisa maksimal.




16

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dari data yang telah kami jelaskan diatas mengenai patofisiologi sistem respirasi dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadinya suatu penyakit itu pasti ada tanda, gejala, penyebab, bahkan alur atau jalan terjadinya suatu penyakit itu bisa terjadi. Dalam makalah ini telah dijelaskan bahwa setiap gangguan saluran pernapasan itu ada alurnya atau patofisiologinya.

4.2 Saran
Saran yang dapat kami sampaikan adalah semoga dengan dibuatnya makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca mengenai patofisiologi sistem pernapasan.



17
DAFTAR PUSTAKA

Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Musdalifah, Milda. (patotisiologis-sistem-respirasi-ibu.html (19 september 2013)).

Jasmin, Muhammad. (anatomi-fisiologi-saluran pernapasan.html (19 september 2013)).

Jawa, Kampung. (definisi-retraksi-pengertian-retaksi.html (19 sempember 2013)).

Wikimedia (respirasi kel.4/croup.html).

Arifin, Syamsul (respirasi kel4/sesak-napas-dan-mekanismenya.html (19 september 2013)).

Antariksa, Budhi. potogenesis,diagnostik dan skrining OSA (Obstructive Sleep Apnea). Jakarta.

























iv

Tidak ada komentar:

Posting Komentar