MAKALAH PATOFISIOLOGI
SISTEM PERNAFASAN
(RESPIRASI)
Kelas S1-2B
Nama Kelompok 3 :
Afissa R. Ayunda (121.0004)
Angga Jales (121.0010)
Ellysa
Mega S (121.0030)
Raihatus Sofia (121.0082)
Selvi Karunia D (121.0096)
Siti Fatimatur R (121.0098)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
HANG TUAH SURABAYA
2013-2014
KATA
PENGANTAR
Segala puji kami panjatkan ke-dzat illahirobbi dimana atas berkah dan
hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah “Patofisiologi Sistem
Pernapasan”.
Makalah yang kami
buat bertujuan agar kita sebagai mahasiswa/i dapat
menggambarkan hubungan antara anatomi serta fisiologi sistem pernapasan normal
serta akibat disfungsi pernapasan sebagai proses kelanjutan penyakit.
Mengetahui etiologi, patogenesis, serta prinsip pengobatan berbagai penyakit
atau gangguan respirasi
Makalah yang kami buat jauh dari sempurna oleh karena itu jika ada kesalahan
didalamnya kami mohon maaf dan kami mengucapkan terima kasih kepada pihak–pihak
yang telah mendukung dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah yang kami
buat dapat bermanfaat.
Surabaya,
24 September 2013
Penulis
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI .............................................................................................. i
KATA
PENGANTAR ............................................................................... ii
BAB I :
PENDAHULUAAN .................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang ................................................................................ ......
1
1.2 Rumusan
Masalah .................................................................................. 1
1.3 Tujuan
Penulisan .................................................................................... 1
BAB II :
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 2
2.1
Sistem Pernafasan.................................................................................. 2
2.2 Alat
– alat Pernafasan pada Manusia .................................................... 3
2.3
Proses Pernapasan ................................................................................. 7
BAB III
: PEMBAHASAN........................................................................ 8
3.1
Peningkatan dan Penurunan Nafas ....................................................... 8
3.2
Macam-macam Pola Nafas .................................................................... 9
3.3
Macam-macam Bentuk Dada ................................................................ 9
3.4 Pengaturan
Asam Basa dan Kaitannya Dalam Sistem Respirasi .......... 10
BAB
IV : PENUTUP ................................................................................. 12
4.1
Kesimpulan ........................................................................................... 12
4.2
Saran ..................................................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................ 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu
organisme atau mahluk hidup memiliki bermacam-macam sistem jaringan atau organ
dalam tubuhnya, dimana sistem tersebut memiliki fungsi dan peranan serta
manfaat tertentu bagi makhluk hidup. Salah satu sistem yang ada pada
suatu organisme yakni sistem pernapasan. Sistem pernapasan ini sendiri
memiliki fungsi dan peranan yang sangat struktural dan terkoordinir.
Dalam ilmu patofisiologi,
sistem pernapasan akan dibahas secara detail bahkan sampai anatominya, sehingga
kita bisa mengetahui organ dan saluran apa saja yang ikut berperanan dalam
menyalurkan oksigen (O2) yang kita hirup.
1.2 Tujuan Penulisan
a)
Untuk mengetahui saluran-saluran pada sistem pernapasan
b)
Untuk mengetahui mekanisme pernapasan
c)
Untuk mengetahui peningkatan dan penurunan nafas
d)
Untuk mengetahui bentuk dada,pola nafas,dan pengaturan asam basa dalam
sistem pernapasan
1.3 Rumusan Masalah
a)
Apakah faktor dari peningkatan dan penurunan nafas?
b)
Apakah macam dari pola nafas?
c)
Apakah macam dari bentuk dada?
d)
Bagaimanakah pengaturan asam basa dan kaitannya dalam
sistem respirasi?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem
Pernafasan
Pengertian
pernapasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen,
pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Manusia dalam
bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke
lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1.
Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah
dan udara.
2.
Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke
sel-sel tubuh.
Dalam mengambil napas ke dalam tubuh dan membuang napas
ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :
1. Respirasi / Pernapasan Dada
·
Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut
·
Tulang rusuk terangkat ke atas
·
Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada kecil
sehingga udara masuk ke dalam badan.
2. Respirasi / Pernapasan Perut
·
Otot diafragma pada perut mengalami kontraksi
·
Diafragma datar
·
Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara pada
dada mengecil sehingga udara masuk ke paru-paru.
Normalnya
manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam keadaan tubuh
bekerja berat maka oksigen atau O2 yang diperlukan pun menjadi
berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kali lipat. Ketika oksigen
tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang banyaknya akan
disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara.
Pada
pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg dengan 19 cc
oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya 40 milimeter air
raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam tubuh kurang lebih
sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan 4,3 cc
karbondioksida / CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar
dari jaringan menuju paru-paru dengan bantuan darah.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
·
Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3
---> H2 + CO2
·
Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
·
Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 --->
Hb + O2
·
Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O
---> H2 + CO2
Alat-alat pernapasan
berfungsi memasukkan udara yang mengandung oksigen dan mengeluarkan udara yang
mengandung karbon dioksida dan uap air.
Tujuan proses pernapasan yaitu untuk memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi.
Tujuan proses pernapasan yaitu untuk memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi.
2.2
Alat – alat pernapasan pada manusia
2.2.1 Rongga Hidung (Cavum Nasalis)
Udara dari
luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis
selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan
kelenjar keringat (kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap
benda asing yang masuk lewat saluran pernapasan. Selain itu, terdapat juga
rambut pendek dan tebal yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk
bersama udara. Juga terdapat konka yang mempunyai banyak kapiler darah yang
berfungsi menghangatkan udara yang masuk. Di sebelah belakang rongga hidung
terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yang disebut choanae.
Pada
permukaan rongga hidung terdapat rambut-rambut halus dan selaput lendir yang
berfungsi untuk menyaring udara yang masuk ke dalam rongga hidung.
2.2.2 Faring (Tenggorokan)
Udara dari
rongga hidung masuk ke faring. Faring merupakan percabangan 2 saluran, yaitu
saluran pernapasan (nasofarings) pada bagian depan dan saluran pencernaan
(orofarings) pada bagian belakang.
Pada bagian
belakang faring (posterior) terdapat laring (tekak) tempat terletaknya pita
suara (pita vocalis). Masuknya udara melalui faring akan menyebabkan pita
suara bergetar dan terdengar sebagai suara.
Makan
sambil berbicara dapat mengakibatkan makanan masuk ke saluran pernapasan karena
saluran pernapasan pada saat tersebut sedang terbuka. Walaupun demikian, saraf
kita akan mengatur agar peristiwa menelan, bernapas, dan berbicara tidak
terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan.
Fungsi
utama faring adalah menyediakan saluran bagi udara yang keluar masuk dan juga
sebagai jalan makanan dan minuman yang ditelan, faring juga menyediakan ruang
dengung(resonansi) untuk suara percakapan.
2.2.3 Batang Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan
berupa pipa yang panjangnya ± 10 cm, terletak sebagian di leher dan sebagian di
rongga dada (torak). Dinding tenggorokan tipis dan kaku, dikelilingi oleh
cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga bersilia. Silia-silia ini
berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran pernapasan.
Batang
tenggorokan (trakea) terletak di sebelah depan kerongkongan. Di dalam rongga
dada, batang tenggorokan bercabang menjadi dua cabang tenggorokan (bronkus). Di
dalam paru-paru, cabang tenggorokan bercabang-cabang lagi menjadi saluran yang
sangat kecil disebut bronkiolus. Ujung bronkiolus berupa gelembung kecil yang
disebut gelembung paru-paru (alveolus).
2.2.4
Pangkal Tenggorokan (laring)
Laring merupakan
suatu saluran yang dikelilingi oleh tulang rawan. Laring berada diantara
orofaring dan trakea, didepan lariofaring. Salah satu tulang rawan pada laring
disebut epiglotis. Epiglotis terletak di ujung bagian pangkal laring.
Laring
diselaputi oleh membrane mukosa yang terdiri dari epitel berlapis pipih yang
cukup tebal sehingga kuat untuk menahan getaran-getaran suara pada laring.
Fungsi utama laring adalah menghasilkan suara dan juga sebagai tempat keluar
masuknya udara.
Pangkal
tenggorokan disusun oleh beberapa tulang rawan yang membentuk jakun. Pangkal
tenggorokan dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorokan (epiglotis). Pada
waktu menelan makanan, katup tersebut menutup pangkal tenggorokan dan pada
waktu bernapas katu membuka. Pada pangkal tenggorokan terdapat selaput suara
yang akan bergetar bila ada udara dari paru-paru, misalnya pada waktu kita
bicara.
2.2.5
Cabang Batang Tenggorokan (Bronkus)
Tenggorokan
(trakea) bercabang menjadi dua bagian, yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Struktur
lapisan mukosa bronkus sama dengan trakea, hanya tulang rawan bronkus bentuknya
tidak teratur dan pada bagian bronkus yang lebih besar cincin tulang rawannya
melingkari lumen dengan sempurna. Bronkus bercabang-cabang lagi menjadi
bronkiolus.
Batang
tenggorokan bercabang menjadi dua bronkus, yaitu bronkus sebelah kiri dan
sebelah kanan. Kedua bronkus menuju paru-paru, bronkus bercabang lagi menjadi
bronkiolus. Bronkus sebelah kanan (bronkus primer) bercabang menjadi tiga
bronkus lobaris (bronkus sekunder), sedangkan bronkus sebelah kiri bercabang
menjadi dua bronkiolus. Cabang-cabang yang paling kecil masuk ke dalam
gelembung paru-paru atau alveolus. Dinding alveolus mengandung kapiler darah,
melalui kapiler-kapiler darah dalam alveolus inilah oksigen dan udara berdifusi
ke dalam darah. Fungsi utama bronkus adalah menyediakan jalan bagi udara yang
masuk dan keluar paru-paru.
2.2.6 Paru-paru (Pulmo)
Paru-paru
terletak di dalam rongga dada bagian atas, di bagian samping dibatasi oleh otot
dan rusuk dan di bagian bawah dibatasi oleh diafragma yang berotot kuat.
Paru-paru ada dua bagian yaitu paru-paru kanan (pulmo dekster) yang terdiri
atas 3 lobus dan paru-paru kiri (pulmo sinister) yang terdiri atas 2 lobus.
Paru-paru dibungkus oleh dua selaput yang tipis, disebut pleura. Selaput bagian
dalam yang langsung menyelaputi paru-paru disebut pleura dalam (pleura
visceralis) dan selaput yang menyelaputi rongga dada yang bersebelahan dengan
tulang rusuk disebut pleura luar (pleura parietalis). Paru-paru tersusun oleh
bronkiolus, alveolus, jaringan elastik, dan pembuluh darah. Bronkiolus tidak
mempunyai tulang rawan,tetapi ronga bronkus masih bersilia dan dibagian
ujungnya mempunyai epitelium berbentuk kubus bersilia. Setiap bronkiolus
terminalis bercabang-cabang lagi menjadi bronkiolus respirasi, kemudian menjadi
duktus alveolaris. Pada dinding duktus alveolaris mangandung
gelembung-gelembung yang disebut alveolus.
Pertukaran Gas dalam Alveolus
Oksigen
yang diperlukan untuk oksidasi diambil dari udara yang kita hirup pada waktu
kita bernapas. Pada waktu bernapas udara masuk melalu saluran pernapasan dan
akhirnya masuk ke dalam alveolus. Oksigen yang terdapat dalam alveolus
berdifusi menembus dinding sel alveolus. Akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah
dan diikat oleh hemoglobin yang terdapat dalam darah menjadi oksihemoglobin.
Selanjutnya diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.
Oksigennya
dilepaskan ke dalam sel-sel tubuh sehingga oksihemoglobin kembali menjadi
hemoglobin. Karbondioksida yang dihasilkan dari pernapasan diangkut oleh darah
melalui pembuluh darah yang akhirnya sampai pada alveolus Dari alveolus karbon
dioksida dikeluarkan melalui saluran pernapasan pada waktu kita mengeluarkan
napas. Dengan demikian dalam alveolus terjadi pertukaran gas yaitu oksigen
masuk dan karbondioksida keluar.
2.3
Proses Pernapasan
Proses
pernapasan meliputi dua proses, yaitu menarik napas atau inspirasi serta
mengeluarkan napas atau ekspirasi. Sewaktu menarik napas, otot diafragma
berkontraksi, dari posisi melengkung ke atas menjadi lurus. Bersamaan dengan
itu, otot-otot tulang rusuk pun berkontraksi. Akibat dari berkontraksinya kedua
jenis otot tersebut adalah mengembangnya rongga dada sehingga tekanan dalam
rongga dada berkurang dan udara masuk. Saat mengeluarkan napas, otot diafragma
dan otot-otot tulang rusuk melemas. Akibatnya, rongga dada mengecil dan tekanan
udara di dalam paru-paru naik sehingga udara keluar. Jadi, udara mengalir
dari tempat yang bertekanan besar ke tempat yang bertekanan lebih kecil.
Jenis Pernapasan
berdasarkan organ yang terlibat dalam peristiwa inspirasi dan ekspirasi, orang
sering menyebut pernapasan dada dan pernapasan perut. Sebenarnya pernapasan
dada dan pernapasan perut terjadi secara bersamaan.
1) Pernapasan dada terjadi karena kontraksi otot antar
tulang rusuk, sehingga tulang rusuk terangkat dan volume rongga dada membesar
serta tekanan udara menurun (inhalasi). Relaksasi otot antar tulang
rusuk, costa menurun, volume kecil, tekanan membesar (ekshalasi).
2) Pernapasan perut terjadi karena kontraksi /relaksasi
otot diafragma (datar dan melengkung), volume rongga dada membesar , paru-paru
mengembang tekanan mengecil (inhalasi). Melengkung volume rongga dada mengecil,
paru-paru mengecil, tekanan besar/ekshalasi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Peningkatan
dan Penurunan Nafas
Proses inspirasi dan ekskresi
berlangsung sebanyak 15 sampai dengan 18 kali setiap menit, tetapi frekuensi
ini pada setiap orang berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor
berikut.
1. Usia
Anak-anak lebih banyak frekuensi
pernafasannya daripada orang dewasa. Hal ini disebabkan anak-anak masih dalam
usia pertumbuhan sehingga banyak memerlukan energi. Oleh sebab itu,
kebutuhannya akan oksigen juga lebih banyak dibandingkan orang tua.
2. Jenis
kelamin.
Laki-laki lebih banyak frekuensi
pernafasannya daripada perempuan. semakin banyak energi yang dibutuhkan,
berarti semakin banyak pula O2 yang diambil dari udara. Hal ini terjadi karena
laki-laki umumnya beraktivitas lebih banyak daripada perempuan
3. Suhu
tubuh
Semakin tinggi suhu tubuh (demam)
maka frekuensi pernapasan akan semakin cepat.di lingkungan yang panas tubuh
mengalami peningkatan metabolisme untuk mempertahankan suhu agar tetap stabil.
Untuk itu tubuh harus lebih banyak mengeluarkan keringat agar menurunkan suhu
tubuh. Aktivitas ini membutuhkan energi yang dihasilkan dari peristiwa oksidasi
dengan menggunakan oksigen sehingga akan dibutuhkan oksigen yang lebih banyak
untuk meningkatkan frekuensi.
4. Posisi
tubuh
Frekuensi pernapasan meningkat saat
berjalan atau berlari dibandingkan posisi diam. frekuensi pernapasan posisi
berdiri lebih cepat dibandingkan posisi duduk. Frekuensi pernapasan posisi
tidur terlentar lebih cepat dibandingkan posisi tengkurap
5. Kegiatan
Tubuh
Untuk membuktikan pengaruh faktor
ini, Anda dapat melakukan perbandingkan antara orang yang bekerja dengan orang
yang tidak bekerja. Mana yang lebih banyak frekuensi bernapasnya? Jika
diperhatikan, orang yang melakukan aktivitas kerja membutuhkan energi. Berarti
semakin berat kerjanya maka semakin banyak kebutuhan energinya, sehingga
frekuensi pernapasannya semakin cepat.
3.2 Macam-Macam
Pola Nafas
1.
Pola Pernapasan Normal :
Irama pernapasan yang berlangsung
secara teratur. Fase Inspirasi (menghirup nafas) dan ekspirasi (menghembuskan
nafas) berlangsung silih berganti.
2.
Takipnea
Frekuensi
pernafasan normal adalah 14-20x/menit
Jika
melebihi 20x per menit berarti disebut Takipnea.
Biasanya
pernafasan takipnea ini dicirikan sebagai pernafasan yang cepat dan dangkal.
3.
Bradipnea
Pernafasan
yang lambat
Jika
frekuensi pernafasan kurang dari 20x permenit
4.
Pernapasan Cheyne Stokes
Pola
pernapasan cepat dan dalam yang kemudian diikuti periode Apnea (tidak bernafas)
selama beberapa saat
5.
Pernapasan Biot (Ataxic Breathing)
Pola
pernapasan yang tidak teratur sama sekali
6.
Sighing respiration
Pola
Pernapasan yang normal, tetapi ada periode tarikan nafas yang dalam
7.
Hiperpnea/Hiperventilasi
Pola
Pernafasan yang cepat dan dalam
3.3 Macam-Macam Bentuk Dada
Ada empat macam bentuk dada di mana
keempat bentuk ke empat bentuk dada ini
berhubungan dengan gangguan pernapasan. Adapun keempat bentuk dada ini yaitu:
1. Barrel Chest (Dada Barel) :
Bentuk dada yang menyerupai barel, hal itu terjadi karena hasil hiperinflasi
paru. Hiperinflasi ialah terjebaknya udara akibat saluran pernapasan yang
sempit/menyempit. Pada keadaan ini terjadi peningkatan diameter
anteroposterior. Penyakit yang bermanifestasikan barrel chest ini misalnya asma
berat dan PPOK (jenis emfisema). Umumnya di temukan di pria
2. Funnel Chest (Dada Corong) :
Bentuk dada ini terjadi ketika adanya gangguan (defek) perkembangan tulang paru
yang menyebabkan depresi ujung bawah sternum (tulang tengah di dada). Pada
bentuk dada seperti ini rentan terjadi penekanan jaringan terhadap jantung dan
pembuluh darah besar, sehingga murmur (suara bising) pada jantung sering
terjadi. Funnel chest dapat terjadi pada pasien dengan penyakit rikets atau
sindrom marfan.
3. Pigeon Chest (Dada Merpati) :
Bentuk dada ini terjadi ketika ada pergeseran yang menyebabkan "lengkungan
keluar" pada sternum dan tulang iga. Pada keadaan ini juga terjadi
peningkatan diameter anteroposterior. Pigeon chest dapat terjadi pada pasien
dengan penyakit rikets, sindrom marfan, atau kifoskoliosis berat.
4. Khyposcoliosis : Keadaan ini
ditandai dengan elevasi skapula dan spina berbentuk huruf 'S' sesuai namanya
yang terdiri dari kifosis (tulang belakang ke arah depan) dan skoliosis (ke
arah samping). Kifoskoliosis yang berat dapat mengurangi kapasitas paru dan
meningkatkan kerja pernapasan. Bentuk dada ini dapat terjadi sebagai akibat
sekunder dari polio(- mielitis) atau sebagai manifestasi dari sindrom marfan.
3.4 Pengaturan Asam Basa dan Kaitannya Dalam
Sistem Respirasi
Asam didefinisikan sebagai zat yang
dapat memberikan ion H+ ke zat lain (disebut sebagai donor proton), sedangkan
basa adalah zat yang dapat menerima ion H+ dari zat lain (disebut sebagai
akseptor proton). Suatu asam baru dapat melepaskan proton bila ada basa yang
dapat menerima proton yang dilepaskan. Oleh karena itu, reaksi asam basa adalah
suatu reaksi pelepasan dan penerimaan proton.
Peranan sistem respirasi dalam
keseimbangan asam basa adalah mempertahankan agar Pco2 selalu konstan walaupun
terdapat perubahan kadar CO2 akibat proses metabolisme tubuh. Keseimbangan asam
basa respirasi bergantung pada keseimbanagn produksi dan ekskresi CO2. Jumlah
CO2 yang berada di dalam darah tergantung pada laju metabolisme sedangkan
proses ekskresi CO2 tergantung pada fungsi paru.
Kelainan ventilasi dan perfusi pada
dasarnya akan mengakibatkan ketidakseimbanagn rasio ventilasi perfusi sehingga
akan terjadi ketidakseimbangan, ini akhirnya menyebabkan hipoksia maupun
retensi CO2 sehingga terjadi gangguan keseimbangan asam basa.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang diuraikan
diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain: Sistem pernapasan
merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida
dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Sistem pernapasan
dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus
terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah. Usia,jenis
kelamin,suhu tubuh,dan kegiatan tubuh merupakan faktor yang memepengaruhi
peningkatan dan penurunan nafas.
Macam-macam pola nafas terdiri dari: Pernapasan
normal ,takipnea, bradipnea, pernapasan cheyne stokes,pernapasan biot,sighing respiration,hiperpnea.
Sedangkan macam-macam bentuk dada yaitu barrel chest,funnal chest,pigeon chest,
kyphoscoliosis.
4.2 Saran
Agar tidak terjadi gangguan
pada sistem pernapasan kita, hindarilah polusi udara dan gas-gas beracun, serta rawatlah paru-paru
(pulmo) agar tetap bersih, karena paru-paru mudah sekali terserang penyakit
infeksi sehingga menimbulkan kerusakan jaringannya.
DAFTAR
PUSTAKA
1. http://adheblazzer.blogspot.com/2012/03/macam-macam-bentuk-dada.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar