MAKALAH SISTEM RESPIRASI
Pemeriksaan Fisik Sistem Respirasi
Pemeriksaan Diagnostik pada Pasien dengan Penyakit paru
kelompok 5 :
1. Aini
Hayati (121.0006)
2. Arga
Budi (121.0014)
3. Avivatul
Latifah (121.0018)
4. Farikhatur
Rosyidah (121.0036)
5. Rio
Adi Santoso (121.0086)
6. Yenny
Puspita Sari (121.0106)
Prodi
S1-Keperawatan
STIKES
HANG TUAH SURABAYA
Tahun
ajaran 2013-2014
Kata Pengantar
Dengan
memanjatkan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa dan hanya karena rahmatnya
kelompok kami dapat menyelesaikan tugas sistem respirasi mengenai pemeriksaan
fisik sistem respirasi, dan pemeriksaan diagnostik pada pasien dengan penyakit
paru.
Materi yang
kami jabarkan ini adalah hasil diskusi yang dilakukan oleh kelompok kami
melalui buku pelajaran, internet, dan media lainnya. Rangkuman ini berisi
materi pembelajaran, kegiatan, dan tugas yang bertujuan agar mahasiswa lebih
mudah memahami konsep yang diajarkan sehingga turut berperan aktif dalam proses
belajar mengajar serta mampu memecahkan masalah.
Materi-materi
ini disampaikan secara urut dan berkesinambungan sehingga menjadi satu kesatuan
yang utuh untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap materi ini.
Selain itu, materi ini dilengkapi dengan penjelasan, dan gambar.
Harapan kami
dengan selesainya makalah ini semoga semua yang telah kami dapatkan mengenai
pemeriksaan fisik sistem respirasi, dan pemeriksaan diagnostik pada pasien
dengan penyakit paru baik dari dosen pembimbing maupun dari media lain dapat
menjadikan kami lebih mengerti dan memahaminya serta tanpa suatu kekurangan
apapun.
Dengan ini,
kelompok kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.
Bu Hidayatus (dosen pembimbing)
2.
dan teman-teman S1-1B Stikes Hang Tuah Surabaya
yang telah membantu menyelesaikan
materi ini. Tidak lupa kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi keberhasilan proses presentasi dan peningkatan materi ini.
Surabaya, 19 September 2013
Penyusun
Daftar isi
Kata pengantar…………………………………….................i
Daftar isi……………………………………………..............ii
Bab I pendahuluan…………………………..........................1
A.
Latar belakang…………………………………………..1
B.
Tujuan………………………………………..................1
C.
Manfaat…………………………....................................1
D.
Rumusan masalah…………………………….................2
Bab II Pembahasan…………………….................................3
A.Pemeriksaan
fisik sistem respirasi…..............................3
1. Inspeksi………………….................…...................3
2. Palpasi…………………………..............................4
3. Perkusi………………………………….................6
4. Auskultasi
…………………………......................11
B. Pemeriksaan
diagnostic pada pasien dengan penyakit paru….16
1.Definisi
pemeriksaan diagnostic system pernapasan..........16
2. Jenis-jenis gangguan system
pernapasan menggunakan pemeriksaan radiologi…................16
3. Prosedur
diagnostic…………………………….................16
C.
Pemeriksaan diagnostik pada
klien bronkhitis kronik........25
1.
Rontgen thoraks………………….................................
2.
Analisa sputum………………...........................................................................26
3.
Tes fungsi paru……………………....…….....................26
4.
Pemeriksaan kadar gas darah
arteri...............................26
Bab III Penutup……………………………………..................28
A. Kesimpulan…………………………………………..........28
B. Saran…………………………………...............................28
Daftar Pustaka…………………………………. 29
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pemeriksaan
sistem respirasi merupakan satu dari sistem-sistem yang ada pada tubuh manusia.
Pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan data objektif yang dilakukan dengan
cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan fisik adalah
pemeriksaan tubuh klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang
dianggap perlu untuk nmemepertoleh data yang sistematid dan komprehensif,
memastikan/membuktikan hasil anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan
tindakann keperawatan yang tepat bagi klien (Dewi Sartika,2010)
Pemeriksaan
diagnostik adalah penilaian klinis tentang respon individu terhadap suatu
masalah kesehatan. Hasil suatu pemeriksaan sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau perjalanan
penyakit serta menentukan prognosa. Prosedur diagnostic yang digunakan untuk
mendeteksi gangguan pada system pernapasan dibagi ke dalam 2 metode,yaitu:
1. Metode morfologis,
di
antaranya adalah teknik radiologi, endoskopi, pemeriksaan biopsydan sputum
2.
.Metode
fisiologis
misalnya pengukuran gas darah dan
uji fungsi ventilasi
B.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa-apa saja
yang harus diperiksa pada organ pernafasan yang menderita gangguan pernafasan
2. Untuk mengetahui tindakan keperawatan yang harus
dilakukan saat melakukan pemeriksaan fisik system pernapasan
3. Untuk mengetahui apa saja yang harus diperiksa pada
organ pernafasan saat melakukan pemeriksaan diagnostic pada penderita gangguan pernapasan.
4. Diharapkan mahasiswa mampu untuk memahami dan
menerapkan macam pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostic pada organ
pernafasan yang menderita gangguan pernafasan
C.
Manfaat
1. Membantu
perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik system pernafasan
2. Memudahkan
perawat dalam menangani klien dengan gangguan system pernafasan.
3. Mahasiswa
mampu memahami tindakan
keperawatan yang harus dilakukan saat melakukan pemeriksaan fisik system
pernapasan
4. Mahasiswa mampu apa saja yang harus diperiksa pada
organ pernafasan saat melakukan pemeriksaan diagnostic pada penderita gangguan pernapasan.
D.
Rumusan masalah
1. Apa saja yang harus dilakukan pada
pemeriksaan fisik sistem pernafasan?
2. Tindakan apa sajakah yang harus
dilakukan pada pemeriksaan diagnostic system pernafasan ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pemeriksaan
fisik sistem respirasi
1.
INSPEKSI
Pada
pemeriksaan inspeksi sistem respirasi dilakukan secara menyeluruh dan
sistematis. Prosedur pemeriksaan inspeksi toraks dilakukan dalam dua keadaan,
yaitu inspeksi yang dilakukan dalam keadaan statis dan dalam keadaan dinamis.
Inspeksi diawali dengan pengamatan pada keadaan statis, terhadap keadaan umum
pasien, kepala (adanya edema di muka), mata (cunjunctiva, kelopak mata), leher
( Jugular Venous Presure, deviasi trakea) tangan (clabing finger, kuku), kaki
(edema tungkai) dan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan toraks seperti
kelainan bentuk dinding toraks, dll. Sehingga pada pemeriksaan inspeksi sistem
respirasi ini perlu diperhatikan hal-hal berikut;
·
Kelainan yang terdapat
pada sistem respirasi
·
Kelainan alat diluar sistem respirasi yang
mempengaruhi pernapasan, seperti :
ü Penyakit
jantung
ü Anemia
ü Dll
·
Kelainan sistem
respirasi yang menimbulkan gejala diluar paru
ü Jari
tabuh
ü Sianosis
ü Edema
muka
ü Bendungan
vena leher
ü Dll
Selain itu, Inspeksi pasien juga meliputi
pemeriksaan terhadap adanya atau tidak adanya beberapa factor, yaitu :
Ø Efektivitas
dan frekwensi batuk pasien
Hal ini penting
untuk dilaporkan, serta karakteristik sputum seperti jumlah, warna, dan
konsistensi.
Ø Observasi
ekspansi dada umum
Bagian integral
dalam pengkajian pasien. Secara normal kita mengharapkan kurang lebih 3 inci
ekspansi pada ekspirasi maksimal ke inspirasi maksimal.
Ø Kedalaman
pernapasan sering berarti sebagai frekwensi pernapasan.
Durasi inspirasi
versus durasi ekspirasi penting dalam menentulcan apakah ada obstruksi jalan
napas. Pada pasien dengan penyakti paru obstruktif, ekspirasi memanjang lebih
dari 1½ kali panjang inspirasi.
Ø Posisi
trakea
Apakah trakea
pada garis tengah leher atau deviasi ke satu sisi? Efusi pleural atau tekanan
pnernotoraks selalu membuat deviasi trakea ke sisi jauh dari yang sakit. Pada
atelektasis, trakea sering tertarik pada sisi yang sakit.
Ø Peningkatan
diameter anteroposterior (AP) dada
(mis.,
peningkatan dalam ukuran dada dari depan ke belakang) juga diperiksa. Ini
sering disebabkan oleh ekspansi maksimal paru pada penyakit paru obstruksi,
tetapi peningkatan dalam diameter AP juga dapat terjadi pada pasien yang
mengalami kifosis (lengkung ke depan pada tulang belakang).
2. PALPASI
Pada
pemeriksaan palpasi sistem respirasi dapat dilakukan pemeriksaan Tactil fremitus
dinding toraks dengan cara :
·
Menempelkan telapak dan
jari jari tangan pada dinding dada. kemudian pasien
disuruh mengucapkan kata kata seperti 77, dengan
nada yang sedang. Bandingkan getaran yang timbul antara hemithorax kiri
dan kanan secara simetris dengan cara menyilangkan tangan pemeriksa secara
bergantian. Secara normal, bila pasien mengikuti instruksi itu, vibrasi terasa
pada luar dada di tangan pemeriksa. Ini mirip dengan vibrasi yang terasa pada
peletakan tangan di dada kucing bila ia sedang mendengkur. Pada pasien normal
fremitus taktil ada. Ini dapat menurun atau tidak ada bila terdapat sesuatu
diantara tangan pemeriksa dan paru pasien serta dinding dada.
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar
1 : pemeriksaan palpasi toraks dan lokasi penempatan tangan pada pemeiksan fremitus
Fremitus
meningkat bisa ditemukan pada :
o Infiltrat
paru
o Compressive
atelektasis
o Cavitas
paru
Fremitus
menurun pada :
o Penebalan
pleura
o Efusi
pleura
o Pneumothorax
o Emfisema
paru
o Obstruksi
dari bronkus
Selain
itu dengan palpasi dapat juga menentukan kelainan di perifer seperti :
·
kondisi kulit (basah
atau kering),
·
adanya demam,
·
arah aliran vena
dikulit pada vena yang terbendung (venaectasi),
·
tumor,
·
pembesaran KGB,
·
deviasi trakea, dll
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar A Gambar
B
Gambar
2 : A. pemeriksaan trakea, B pemeriksan kelenjer Getah Beninng ( KGB) supra clavikula.
Pemeriksaan
palpasi juga dapat menilai pengembangan dinding toraks.
![]() |
![]() |
Gambar 3 : Penilaian pengembangan dinding toraks
depan dan belakang
3. PERKUSI
(perkusi dinding toraks)
Perkusi
adalah jenis pemeriksaan fisik yang berdasarkan interpretasi dari suara yang
dihasilkan oleh ketokan pada dinding toraks. Metoda ini tetap penting walaupun
pemeriksaan radiologi toraks sudah makin berkembang, oleh karena dengan
pemeriksaan fisik yang baik bisa memprediksi kelainan yang ada dalam rongga
toraks sebelum pemeriksaan radiologi dilakukan.
Dengan
pemeriksaan ketok/ perkusi pada dinding toraks akan menggetarkan udara yang ada
dalam paru. Bunyi yang dihasilkan tergantung dari banyak sedikitnya udara yang
ada dalam rongga dada. Penilaiannya dapat dikelompokan sebagai berikut:
·
Sonor
·
Hipersonor
·
Redup
·
Pekak
![]() |
![]() |
Gambar 4 : Lokasi berbagai bunyi perkusi didnding
toraks dalam keadaan normal.
Teknik
dari perkusi
Pada
pemeriksaan perkusi penderita bisa dalam posisi tidur dan bisa dalam posisi
duduk.
Pemeriksa menggunakan jari tengah tangan kiri yang menempel pada permukaan
dinding toraks, tegak lurus dengan iga atau sejajar dengan iga disebut sebagai
flexi meter. Sementera jari tengah tangan kanan digunakan sebagai pemukul
(pengetok) disebut flexor.
Perkusi
pada diding toraks depan dapat dilakukan pada posisi tidur telentang, jika
pasien
duduk kedua tangan pada paha dengan flexi pada sendi siku. Perkusi dimulai dari
lapangan atas paru menuju ke lapangan bawah sambil membandingkan bunyi perkusi
antara hemi toraks kanan dan hemi toraks kiri.
Pemeriksaan
perkusi dinding toraks belakang dilakukan pada posisi pasien duduk
membelakangi
pemeriksa, jika pasien tidur oleh karena, tidak dapat duduk maka untuk perkusi
daerah punggung, posisi pasien dimiringkan kekiri dan kekanan bergantian.
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar 5 : Perkusi Toraks
![]() |
||
![]() |
||
Gambar 6
: Lokasi perkusi dinding toraks depan dan belakang
Hal
yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan perkusi dinding toraks :
·
Jika dinding toraks
pasien lebih tebal tekanan jari flexi meter pada permukaan dinding toraks
semakin ditingkatkan dan ketokan flexor semakin kuat.
·
Lakukan ketokan cepat,
kuat, tegak lurus memantul dari jari tengah tangan kanan pada phalanx kedua
dari jari tengah tangan kiri yang menempel pada permukaan dinding toraks.
·
Gerakan ketokan pada
perkusi berpusat pada sendi pergelangan tangan bukan pada sendi siku.
·
Kekuatan perkusi
disesuaikan, pada dinding toraks yang ototnya tebal perkusi agak lebih kuat
sedangkan pada daerah yang ototnya tipis seperti daerah axilla dan lapangan
bawah paru, kekuatan perkusi tidak terlalu kuat.
·
Waktu inspirasi dalam,
batas belakang paru akan turun 4-6 cm, oleh karena terjadi peranjakan batas
paru turun ke bawah yang ditandai oleh perobahan suara perkusi redup menjadi
sonor sejauh 4-6 cm.
![]() |
Gambar 7 : Peranjakan batas belakan paru
·
Bagian anterior toraks,
bunyi sonor mulai dari clavicula kearah arcus costarum, kecuali pada daerah
jantung dan hati yang memberikan perkusi redup atau pekak
·
Pada daerah anterior
kanan pada ruang intercostal 4 sampai 6 akan didapatkan perkusi redup, dimana
pada daerah ini didapatkan overlap antara parenkim paru dengan hati (perkusi
dilakukan pada linea medio clavicularis kanan.
·
Dari intercostal 6
sampai arcus costarum kanan, perkusi adalah pekak (daerah hati) yang tidak
ditutupi parenkim paru.
·
Pada bagian anterior
kiri bawah, didapatkan perkusi timpani (daerah lambung) 2-3 cm diatas
(superior) dari clavicula di sebut kronig’s isthmus. Suatu zona sonor +
4-6 cm meluas melewati bahu kearah posterior sampai tonjolan scapula, daerah
ini bisa menyempit bila terjadi fibrosis dari apex paru.
·
Daerah dinding belakang
toraks, bunyi perkusi sonor dari apex paru sampai batas bawah vertebrae thoracal
X/XI.
·
Diatas scapula bunyi
perkusi sonor agak melemah.
·
Batas jantung dengan
perkusi :
ü Kanan
: Ruang intercostal III-IV pinggir sternum kanan
ü Kiri
atas : Ruang intercostal III kiri, 2-4 cm dari mid sternum
ü Kiri
bawah : Intercostal V kiri, pada linea mid clavicularis.
|
Bunyi perkusi
|
Intensitas, Relatif, Pitch Dan
Lamanya
|
Contoh
|
|
FLATNESS
|
Soft/ hight/soft
|
Efusi pleura yang luas
|
|
DULLNESS
|
Medium/medium/medium
|
Pneumonia lobaris
|
|
RESONANCE
|
Loud/low/long
|
Paru normal, bronkitis kronik
|
Tabel
1. Resume Pemeriksaan Dinding Dada.
Jenis
bunyi perkusi dinding toraks:
·
Suara perkusi normal
dari toraks pada lapangan paru disebut sonor ( resonance)
·
Perkusi pada infiltrat
paru dimana parenkim lebih solid mengandung sedikit udara)
·
perkusi akan
menghasilkan redup (dullness).
·
Perkusi pada efusi
pleura masif atau massa tumor yang besar suara perkusi pekak (flatness.)
·
Hiperinflasi dari paru dimana udara tertahan
lebih banyak dalam alveoli atau adanya udara didalam rongga pleura
(pnemothorax) menghasilkan perkusi (hipersonor).
·
Adanya udara dalam
lambung menimbulkan suara perkusi ( timpani.)
4.
AUSKULTASI PARU
Auskultasi
paru dilaksanakan secara indirect yaitu dengan memakai stetoskop. Sebelum
ditemukan stetoskop auskultasi dilakukan secara direct dengan menempelkan
telinga pemeriksa pada permukaan tubuh orang sakit. Ada dua tipe dari stetoskop
yaitu
o
Bell type : untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah
o Bowel
atau membran type : untuk nada-nada
yangn lebih tinggi.
Umumnya
setiap stetoskop dilengkapi dengan kedua tipe ini. Posisi penderita
sebaiknya
duduk seperti melakukan perkusi. Kalau pasien tidak bisa duduk, auskultasi
dapat dilaksanakan dalam posisi tidur. Pasien sebaiknya disuruh bernapas dengan
mulut tidak melalui hidung. Pemeriksa memberikan contoh bernapas terlebih dulu
sebelum memeriksa pasien.
Yang
diperiksa pada auskultasi paru adalah :
1.
Suara napas utama
(breath sounds)
Pada
orang sehat dapat didengar dengan auskultasi suara napas :
·
Vesikuler
Pada
suara napas vesikuler, suara inspirasi lebih keras, lebih panjang dan pitchnya
(nada) lebih tinggi dari suara ekspirasi. Suara napas vesikuler terdengar
hampir diseluruh lapangan paru, kecuali pada daerah supra sternal dan
interscapula. Suara vesikuler dapat
mengeras
pada orang kurus atau post “exercise” dan melemah pada orang gemuk atau pada
penyakit-penyakit tertentu.
·
Trakeal
Suara
napas trakeal hampir sama dengan suara napas bronkial tetapi durasi ekspirasi
hamper sama antara ekspirasi dengan inspirasi, terdengar pada daerah trakea.
·
Bronkial
Pada
suara napas bronkial, suara napas ekspirasi, intensitasnya lebih keras,
durasinya lebih panjang dan nadanya lebih tinggi dari suara inspirasi, terdapat
pada daerah supra sternal. Ditemukanya bunyi napas bronkial pada daerah yang
seharusnya suaran napas vesikuler, hal ini dapat disebabkan oleh pemadatan dari
parenkim paru seperti pada pneumonia dan kompresive atelektase.
·
Bronkovesikuler
Pada
bunyi napas bronkovesikuler, suara yang timbul adalah campuran antara suara
napas vesikuler dan bronkial. Jenis suara napas ini ditandai dengan ekspirasi
lebih keras, lebih lama dan nadanya lebih tinggi dari inspirasi. Jenis
pernapasan ini, normal didapatkan pada daerah Ruang Inter Costal ( RIC) I &
II kiri dan kanan di bagian depan dan daerah interscapula pada bagian belakang,
dimana terdapat ovelap antara parenkim paru dengan bronkus besar. Pernapasan
broncovesikuler bila didapatkan pada daerah yang secara normal adalah vesikuler
ini menunjukkan adanya kelainan pada daerah tersebut.
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar
8 : A. Lokasi suara napas di diding depan toraks, B.
lokasi suara napas
di diding toraks belakang.
Jenis
pernapasan lain :
·
Asmatis
Suara
napas asmatik yaitu pernapasan dengan ekspirasi yang memanjang kadang disertai
bunyi yang menciut (mengi) atau wheezing didapat pada penderita asma bronkial
atau penderita PPOK.
·
Amphoric sounds
Suara
napas Amporik dapat berasal dari kavitas atau pneumotoraks dengan fistel yang
terbuka. Bunyinya seperti mendengar botol kosong yang ditiup.
Untuk
mendengar suara napas perhatikan intensitas, durasi dan pitch (nada) dari
inspirasi dibandingkan dengan ekspirasi.
![]() |
![]() |
|||||
![]() |
![]() |
|||||
Gambar
9 : Auskultasi dan lokasi pemeriksan auskultasi pada dinding toraks
Depan dan belakang
2.
Suara napas tambahan
·
Ronki (Rales)
Adalah
suara tambahan yang dihasilkan oleh aliran udara melalui saluran napas yang berisi
sekret / eksudat atau akibat saluran napas yang menyempit atau oleh oedema
saluran napas. Ada dua jenis ronchi yaitu:
a.
ronki basah (moist
rales)
Ronki
basah adalah suara tambahan disamping suara napas, yaitu bunyi gelembung udara
yang melewati cairan (gurgling atau bubling) terutama pada fase inspirasi.
Ronchi basah disebabakan oleh adanya eksudat atau cairan dalam bronkiolus atau
alveoli dan bisa juga pada bronkus dan trakea. Macam-macam ronchi basah :
o
ronki basah nyaring :
contohnya pada infiltrat paru
o
ronchi basah tak
nyaring :misalnya pada bendungan paru.
o
ronki basah kasar,
ini
biasanya berasal dari cairan yang berada dibronkus besar atau trakea.
o
ronki basah sedang
o
ronki basah halus yang
terutama terdengar pada akhir inspirasi, terdengar seperti bunyi gesekan rambut
antara jari telunjuk dengan empu jari.
b.
ronki kering (dry
rales).
Ronki
kering disebabkan lewatnya udara melalui penyempitan saluran napas, inflamasi
atau spasme saluran napas seperti pada bronchitis atau asma bronchial. Ronchi
kering lebih dominant pada fase expirasi terdengar squeking dan grouning, pada
saluran yang lebih besar adalah deep tone grouning (sonorous) dan pada
saluran
yang lebih kecil terdengar squeking dan whistling (sibilant).
Ronchi kering dengan berbagai kwalitas frekwensi pitchnya disebut musical
rales (seperti pada penderita asma bronchial)
·
Pleural friction
Terjadinya
bunyi pergeseran antara pleura parietal dengan pleura viseral waktu inspirasi
disebut Pleura friction. Dapat terjadi pada pleuritis fribrinosa. Lokasi yang
sering terjadi pleura friction adalah pada bagian bawah dari axilla, namun
dapat juga terjadi di bagian lain pada lapangan paru. Terdengar seperti
menggosok ibu jari dengan jari telunjuk dengan tekanan yang cukup keras pada
pangkal telinga kita, terdengar pada fase inspirasi dan ekspirasi.
·
The Whispered Voice
(Suara berbisik)
·
Bronchophoni
Vocal
sound (suara biasa) bila didengarkan pada dinding thorax (lapangan paru) akan
terdengar kurang keras dan kurang jelas dan terdengar jauh. Bila terdengar
lebih keras, lebih jelas dan pada pangkal telinga pemeriksaan disebut
bronchoponi positif terdapat pada pemadatan parenkim paru, misal pada infiltrat
dan aktelektasis kompresif.
·
Eugophoni
Eugophoni
yaitu bronchophoni yang terdengar nasal, biasanya disebabkan oleh kompresif
atelektasis akibat dorongan efusi pleura pada parenkim paru terdengar pada
perbatasan cairan dengan parenkim paru
B. Pemeriksaan diagnostic pada
pasien dengan penyakit paru
1.
Definisi pemeriksaan diagnostic system
pernapasan
Pemeriksaan
radiologi thoraks merupakan upaya pengkajian klien dengan gangguan system
respirasi. Sarana sinar-x atau sinar peng-ion lainnya sebagai sarana diagnostic,
misalnya pesawat sinar-x dan isotop.
2. Jenis-jenis gangguan system
pernapasan menggunakan pemeriksaan radiologi:
·
Kanker laring
·
Pneumonia
·
TB paru
·
Abses paru
·
Bronchitis kronik
·
Emfisema paru
·
Asma
3.
Prosedur diagnostic
yang digunakan untuk mendeteksi gangguan pada system pernapasan dibagi ke dalam
2 metode, yaitu:
·
Metode morfologis, di
antaranya yaitu :
1.
teknik radiologi
Toraks
merupakan tempat yang ideal untuk pemeriksaan radiologi. Parenkim paru yang
berisi udara memberikan resistensi yang kecil terhadap jalannya sinar X, karena
itu parenkim menghasilkan bayangan yang sangat bersinar-sinar. Jaringan lunak
dinding dada, jantung dan pembuluh-pembuluh darah besar serta diafragma lebih
sukar ditembus sinar X dibandingkan parenkim paru sehingga bagian ini akan tampak
lebih padat pada radiogram. Struktur toraks yang bertulang (termasuk iga,
sternum dan vertebra) lebih sulit lagi ditembus, sehingga bayangannya lebih
padat lagi. Metode radiografi yang biasa digunakan untuk menentukan penyakit
paru adalah:
a.
Radiografi Dada Rutin
Dilakukan
pada suatu jarak standar setelah inspirasi maksimum dan menahan napas untuk
menstabilkan diafragma. Radiograf diambil dengan sudut pandang posteroanterior
dan kadang juga diambil dari sudut pandang lateral dan melintang. Radiograf yang
dihasilkan memberikan informasi sebagai
berikut:
o Status rangka toraks termasuk iga, pleura dan
kontur diafragma
dan saluran napas atas pada waktu memasuki dada
o Ukuran, kontur dan posisi
mediastinum dan hilus paru,
termasuk jantung, aorta, kelenjar
limfe dan percabangan bronkus
o Tekstur dan derajat aerasi parenkim
paru
o ukuran, bentuk, jumlah dan lokasi
lesi paru termasuk kavitasi,
tanda
fibrosis dan daerah konsolidasi.
Penampilan radiografi dada yang
normal bervariasi dalam beberapa hal bergantung pada:
ü Jenis kelamin
ü Usia
ü Keadaan pernapasan
Tujuan pemeriksaan foto thoraks
untuk :
·
Menilai adanya kelainan jantung, misalnya kelainan letak
jantung, pembesaran atrium atau
ventrikel, pelebaran dan penyempitan aorta.
·
Menilai kelainan paru, misalnya edema paru, emfisema
paru, tuberculosis paru.
·
Menilai adanya perubahan struktur pada ekstra kardiak
ü Gangguan pada dinding thoraks
-
Fraktur iga
-
Fraktur sternum
ü Gangguan rongga pleura
-
Pneumothoraks
-
Hematothoraks
-
Efusi pleura
ü Gangguan pada diafaragma
-
Paralisis saraf fernikus
ü Menilai letak alat-alat yang
dimasukan ke dalam organ di rongga thoraks misalnya ETT,CVP,Swan Ganz,NGT, dan
yang lainnya.
b. Tomografi
computer (CT Scan)
Yaitu suatu teknik gambaran dari suatu
“irisan paru” yang diambil sedemikian rupa sehingga dapat diberikan gambaran
yang cukup rinci. CT scan dipadukan dengan radiograf dada rutin. CT scan
berperan penting dalam:
·
Mendeteksi
ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang utama brronkus
·
Menentukan lesi pada
pleura atau mediastinum (nodus, tumor, struktur vaskular)
·
Dapat mengungkapkan
sifat serta derajat kelaianan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan
toraks lain
CT
scan bersifat tidak infasif sehingga CT scan mediastinum sering digunakan untuk
menilai ukuran nodus limfe mediastinum dan stadium kanker paru, walaupun tidak
seakurat bila menggunakan mediastisnokopi.
c. Pencitraan
Resonansi Magnetik (MRI)
MRI menggunakan resonansi magnetic
sebagai sumber energy untuk mengambil gambaran potongan melintang tuubuh.
Gambaran yang dihasilkan dalam berbagai bidang, dapat membedakan jaringan yang
normal dan jaringan yang terkena penyakit (pada CT scan tidak dapat dibedakan),
dapat membedakan antara pembuluh darah dengan struktur nonvascular, walaupun
tanpa zat kontras. Namun, MRI lebih mahal dibandingkan CT scan. MRI khususnya
digunakan dalam mengevaluasi penyakit pada hilus dan mediastinum.
d. Ultrasounds
Tidak dapat mengidentifikasi penyakit
parenkim paru. Namun, ultrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang
akan timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil
cairan pleura pada torakosentesis.
e. Angiografi
Pembuluh Paru
Memasukkan cairan radoopak melalui
kateter yang dimasukkan lewat vena lengan ke dalam atrium kanan, ventrikel
kanan lalu ke dalam arteri pulmonalis utama. Teknik ini digunakan untuk
menentukan lokasi emboli massif atau untuk menentukan derajat infark paru.
Resiko utama dalam angiografi yaitu timbulnya aritmia jantung saat kateter
dimasukkan ke dalam bilik jantung.
f. Pemindaian
Paru
Pemindaian paru dengan menggunakan
isotop, walaupun merupakan metode yang kurang dapat diandalkan untuk mendeteksi
emboli paru, tetapi prosedur ini lebih aman dibandingkan dengan angiografi.
2.
Endoskopi
Merupakan
suatu teknik yang memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabang-cabang
utamanya. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnosis karsinoma
bronkogenik, tetapi dapat juga digunakan untuk mengangkat benda asing.
3.
Pemeriksaan biopsy
Biopsi
pleural diselesaikan dengan biopsi jarum pleural atau dengan pleuroskopi, yang
merupakan eksplorasi visual bronkoskopi serat optik yang dimasukka kedalam
spasium pleural. Biopsi pleural dilakukan ketika terdapat kebutuhan untuk
kultur atau pewarnaan jaringan untuk mengidentifikasi tuberkulosis atau fungi
Prosedur diagnostik Radioisotop (pemindaian paru)
Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaianinhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
Prosedur diagnostik Radioisotop (pemindaian paru)
Terdapat 3 pemindaian paru yaitu pemindaian perfusi, pemindaian ventilasi, dan pemindaianinhalasi. Prosedur ini digunkan untuk mendetekasi fungsi normal paru, suplai vaskuler pulmonal, dan pertukaran gas.
4.
sputum.
Spesimen sputum diambil untuk
mengidentifikasi tipe organisms yang berkembang dalam sputum. Suatu sputum
kultur dan sensitivitas sputum (C dan S) mengidentifikasi mikroorganisme
tertentu dan resistansi serta sensitivitasnya terhadap obat. Spesimen sputum juga
dapat diambi I untuk mengidentifikasi adanya tuberkel basilus (TB), sputum
untuk basilus cepat-asam (sputum for acid-fast bacillus [AFB]). Spesimen AFB
diperoleh riga hari berturut-turut pada awal pagi hari. Sputum untuk sitologi
adalah spesimen sputum yang diambil untuk mengidentifikasi kanker paru abnormal
dengan tipe set. Pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan serangkaian
pengumpulan spesimen riga hari berturut-turut pada awal pagi hari.
Perawat harus memastikan spesimen
sputum yang mengandung lendir dari bagian dalam bronkus dan bukan saliva. Carat
warna, konsistensi, jumlah, dan bau sputum dan dokumentasi tanggal dan waktu
spesimen dikirim ke laboratorium khusus untuk dianalisis.
· Metode
fisiologis :
a.
Uji Fungsi pulmonal
Pemeriksaan
fungsi paru menentukan kemampuan paru-paru untuk melakukan pertukaran oksigen
dan karbon dioksida secara efisien. Pemeriksaan ventilasi dasar dilakukan
dengan menggunakan spirometer dan alat pencatat sementara khen bernapas
melalui masker mulut (mouthpiece) yang dihubungkan dengan selang penghubung.
Pengukuran yanc, dilakukan mencakup volume tidal (Vt), volume
reserve inspirasi (IRV), volume residual (VR), dan volume ekspirasi yang
dipaksa selama 1 detik (FEV1).
Pemeriksaan
fungsi paru biasanya dilakukan di laboratorium fungsi pulmonar. Perawat
mempersiapkan klien dengan menjelaskan prosedur. Sebuah klip hidung mencegah
klien menghirup udara atau mengeluarkan udara melalui hidung. Klien bernapas
melalui sebuah masker mulut yang dihubungkan ke spirometer, yang berfungsi untuk
mengukur volume paru. Klien diminta pada waktu-waktu tertentu untuk menghirup
udara atau mengeluarkan sebanyak mungkin udara. Kerja sama klien sangat penting
untuk memastikan hasil yang akurat.
Kecepatan
aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow rate [PEFR]) adalah titik aliran
tertinggi yang dicapai selama ekspirasi maksimal dan titik ini mencerminkan
terjaclinya perubahan ukuran jalan napas menjadi besar. Pengukuran ini sangat
berkorelasi dan sama dengan FEV, (Walsh, 1992). Meter aliran ekspirasi puncak
merupakan alat yang dipegang tangan sehingga memungkinkan klien asma mengikuti
sejauh mina jalan napas terbuka. Informasi tentang kecepatan aliran ekspirasi
puncak merupakan data pengkajian esensial untuk klien asma.
b.
Analisa Gas Darah (Arteri, Vena, PCO2, Po2, PH)
1.
Definisi
Pemeriksaan
gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien
penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk
menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigenasi dalam darah, kadar
karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan
nama pemeriksaan “ASTRUP”, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan
melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A.
brachialis, A. Femoralis. Pengukuran gas darah arteri dilakukan bersamaan dengan
pemeriksaan fungsi paru untuk menentukan konsentrasi ion hidrogen, tekanan
parsial oksigen dan karbon dioksida, dan saturasi oksihemoglobin. Pemeriksaan
gas darah arteri memberikan informasi tentang difusi gas melalui membran
kapileralveolar dan keadekuatan oksigenasi jaringan. Pengukuran
saturasi oksigen kapiler yang kontinu dapat dilakukan dengan menggunakan
oksimetri kutaneus
Saturasi oksigen (0, sat) adalah
persentase hemoglobin yang disaturasi oksigen. Keun- tungan pengukuran
oksimetri transkutaneus meliputi pengukura dilakukan, tidak invasif, dan dengan
mudah diperoleh (Whitney, 1990). Oksimetri tidak menimbulkan nyeri, jika
dibandingkan dengan pungsi arteri. Klien yang mencyalami kelainan
perfusi/ventilasi, seperti pneumonia, emfisema, bronkitis kronik, asma,
embolisms pulmonar, gagal jantung kongestif merupakan kandidat ideal
untukmenggunakan oksmetri nadi (Ahrens dan Rutherford, 1993).
Ukuran-ukuran dalam analisa gas
darah:
|
Analisa Gas Darah
|
Normal
|
|
PH
Pa CO2
Pa O2
Total CO2 dalam plasma
HC03
Base ekses
|
7,35-7,45
35-45
mmhg
80-100
mmhg
24-31
mEq/1
21-30
mEq/1
-2,4
sampai + 2,3
|
|
Saturasi O2 (SaO2 )
|
>90%
|
2. Prosedur pengambilan gas darah
arteri
Alat
·
Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml
·
Botol heparin 10 ml, 1000 unit/ml (dosis-multi)
·
Jarum nomor 22 atau 25
·
Penutup udara dari karet
·
Kapas alcohol
·
Wadah berisi es (baskom atau kantung plastik)
·
Beri label untuk menulis status klinis pasien yang meliputi:
-
Nama, tanggal dan waktu
- Apakah menerima O2 dan bila ya
berapa banyak dan
dengan rute apa
- Suhu
Tekhnik dan cara
pengambilan darah arteri
·
Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakhialis juga
dapat digunakan
·
Bila menggunakan pendekatan arteri radialis lakukan tes
Allen’s. Secara terus menerus bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan
putih kemudian pucat. Lepaskan aliran arteri ulnaris. Tes allen’s positif bila
tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila
aliran arteri radialis tidal paten
·
Pergelangan tangan dihiperekstensikan dan tangan dirotasi
keluar
·
1 ml heparin diaspirasi kedalam spuit, sehingga dasar spuit
basah dengan heparin, dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum,
dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada
gelembung udara
·
Arteri brakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi
dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan.
Bersihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol
·
Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai
pulsasi penuh. Ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang
lebih 45-90 derajat terhadap kulit, tepatnya jarum dan spuit pada posisi 90
derajat
·
Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya
dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit
·
Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri
adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri
·
Setelah darah 5 ml diambil, jarum dilepaskan dan petugas
yang lain menekan area yang di pungsi selama sedikitnya 5 menit (10 menit untuk
pasien yang mendapat antikoagulan)
·
Gelembung udara harus dibuang keluar spuit. Lepaskan jarum
dan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan
untuk mencampurkan heparin
·
Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau air
es, kemudian dibawa kelaboratorium
Oksimetri nadi
Oksimetri
nadi adalah metode pemantauan non-invasif secara kontinu terhadap saturasi
oksigen hemoglobin ( SaO2 ).Oksimetri nadi merupakan Suatu cara
efektif untuk mementau pasien terhadap perubahan saturasi oksigen yang kecil
atau mendadak. Sensor atau probe sekali pakai diletakan pada ujung jari, dahi,
daun telinga, atau batang hidung, sensor mendekteksi tingkat saturasi oksigen
dengan memantau signal cahaya yang dibangkitkan oleh oksimetri dan dan
direfleksikan oleh darah yang berdenyut melalaui jaringan pada probe. Nilai
saturasi oksigen hemoglobin tidak dapat diandalkan dalam keadaan henti jantung,
syok, penggunaan medikasi vasokonstriktor, pemberian zat warna per IV (
y.i.,biru metilen ) yang mewarnai darah, anemia berat, dan kadar karbondioksida
tinggi. Kadar hemoglobin, gas darah arteri, dan pemeriksaan laboratorium lain
diperlukan untuk memvalidasi hasil oksimetri nadi dalam keadaan seprti ini.
3.
Analisa
|
Jenis gangguan asam basa
|
PH
|
Total CO2
|
PCO2
|
|
Asidosis respiratorik tidak
terkompensasi
|
Rendah
|
Tinggi
|
Tinggi
|
|
Alkalosis
respiratorik tidak terkonfensasi
|
Tinggi
|
Rendah
|
Rendah
|
|
Asidosis
metabolic tidak terkonfensasi
|
Rendah
|
Rendah
|
Normal
|
|
Alkalosis
metabolic tidak terkonfensasi
|
Tinggi
|
Tinggi
|
Rendah
|
|
Asidosis
respiratorik kompensasi alkalosis metabolic
|
Normal
|
Tinggi
|
Normal
|
|
Alkalosis
respiratorik kompensasi asidosis metabolic
|
Normal
|
Rendah
|
Normal
|
|
Asidosis
metabolic kompensasi alkalosis respiratorik
|
Normal
|
Rendah
|
Rendah
|
|
Alkalosis
metabolic kompensasi asidosis respiratorik
|
Normal
|
Tinggi
|
Tinggi
|
C.
Pemeriksaan diagnostik pada klien bronkhitis
kronik
Tes diagnostik yang dilakukan pada
klien bronkhitis kronik adalah meliputi :
1. Rontgen thoraks
Pemeriksaan foto thoraks
posterior-anterior dilakukan untuk menilai derajat progresivitas penyakit yang
berpengaruh menjadi penyakit paru obstruktif menahun.
2. Analisa sputum
Hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan adanya perubahan pada peningkatan eosinofil (berdasarkan pada hasil
hitung jenis darah). Sputum diperiksa secara makroskopis untuk diagnosis
banding dengan tuberculosis paru. Apabila terjadi infeksi sekunder oleh kuman
anaerob, akan menimbulkan sputum sangat berbau, pada kasus yang sudah berat,
misalnya pada saccular type bronchitis, sputum jumlahnya banyak sekali, puruen,
dan apabila ditampung beberapa lama, tampak terpisah menjadi 3 bagian, yaitu :
·
Lapisan teratas agak keruh
·
Lapisan tengah jernih, terdiri atas saliva (ludah)
·
Lapisan terbawah keruh terdiri atas nanah dan jaringan
nekrosis dari bronkus yang rusak (celluler debris). (mutaqin, 2008)
3. Tes fungsi paru
Respirasi (Pernapasan / ventilasi)
dalam praktek klinik bermakna sebagai suatu siklus inspirasi dan ekspirasi.
Frekuensi pernapasan orang dewasa normal berkisar 12 – 16 kali permenit yang
mengangkut kurang lebih 5 liter udara masuk dan keluar paru. Volume yang lebih
rendah dari kisaran normal seringkali menunjukkan malfungsi sistem paru. Volume
dan kapasitas paru diukur dengan alat berupa spirometer atau spirometri.
Udara yang keluar dan masuk saluran
pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi sebanyak 500 ml disebut dengan volume
tidal, sedang volume tidal pada tiap orang sangat bervariasi tergantung pada
saat pengukurannya. Rata-rata orang dewasa 70% (350 ml) dari volume tidal
secara nyata dapat masuk sampai ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong alveoli
dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas.
4. Pemeriksaan kadar gas darah arteri (manurung,
2008 )
Gas darah arteri memungkinkan utnuk
pengukuran pH (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar
karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi oksigen, dan kelebihan atau
kekurangan basa. Pemeriksaan gas darah arteri dan pH sudah secara luas
digunakan sebagai pegangan dalam penatalaksanaan pasien-pasien penyakit berat
yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah juga dapat menggambarkan hasil
berbagai tindakan penunjang yang dilakukan, tetapi kita tidak dapat menegakkan
suatu diagnosa hanya dari penilaian analisa gas darah dan keseimbangan asam
basa saja, kita harus menghubungkan dengan riwayat penyakit, Pemeriksaan fisik,
dan data-data laboratorium lainnya.
Ukuran-ukuran dalam analisa gas
darah:
·
PH normal 7,35-7,45
·
Pa CO2 normal 35-45 mmHg
·
Pa O2 normal 80-100 mmHg
·
Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l
·
HCO3 normal 21-30 mEq/l
·
Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3
·
Saturasi O2 lebih dari 90%.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan diagnotik sangat diperlukan sebelum perawat melakukan
tindakan keperawatan lebih lanjut, dan untuk mendapatkan data serta hasil
pemeriksaan yang lebih akurat dan detail. Keakuratan pemeriksaan mempengruhi
terapi yang diterima klien dan menentukan respon terhadap terapi tersebut.
B.
Saran
Diharapkan
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi referensi bagi
para mahasiswa keperawatan maupun pembacanya. Kami sebagai penyusun menyadari
adanya kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, kami mengharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca bagi kami sebagai penyusun makalah ini.
Daftar pustaka
Brunner &
suddarth. (2001).Buku ajar keperawatan medical bedah. Edisi 5. Jakarta :
EGC
www.wikipedia
indonesia.com
pemeriksaan
diagnostic system pernapasan
http://isntpunya.blogspot.com/2010/05/pemeriksaan-diagnostik-sistem.html
Muttaqin, Arif.
2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika
Manurung,
Santa dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar